Defenisi Planet Dan Bintang

  1. Pemahaman planet di zaman geosentris dan heliosentris

Perkembangan pengetahuan manusia tentang planet dan bintang terus berkembang. Planet mempunyai temperatur yang relatif sangat dingin sedang sebuah bintang sangat panas dan dayanya sangat besar. Penemuan baru menunjukkan adanya planet-planet diluar 9-planet yang beredar mengelilingi Matahari. Massa planet yang beredar mengelilingi bintang itu lebih besar dari massa planet Jupiter, begitupula penemuan bintang yang bermassa lebih rendah dari massa Matahari mengundang pertanyaan dimana batas atas massa (massa terbesar) sebuah planet dan batas bawah massa (massa terendah) sebuah bintang?

Pengalaman hidup manusia hanya mengenal lebih dekat planet Bumi. Dari permukaan planet Bumi ini manusia mengenal dunia lain, mengenal planet lain. Dalam tatasurya  dikenal 9-planet, dari orbitnya yang terdekat dari Matahari yaitu planet Merkurius, Venus, Bumi, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto. Perkembangan astronomi abad 21 ini akan menempatkan kesembilan planet itu sebagai planet historis.

Persepsi manusia tentang planet perlu berubah, tidak terbatas oleh planet-planet di sekitar Matahari saja, misalnya orbit planet raksasa tidak selalu jauh dari bintang induk seperti keberadaan planet Jupiter. Kreativitas pembentukan obyek langit diantara bintang bermassa rendah dengan planet sangat banyak, hasil pengamatan obyek-obyek tersebut mendorong perkembangan pemahaman dan persepsi manusia tentang planet dan bintang.  Apa sebenarnya defenisi sebuah planet ?

Planet berasal dari kata Yunani, planetai (wanderers), yang berarti pengembara. Dulu pengembara langit itu dikenal sebagai dewa yang mengawasi gerak gerik manusia di Bumi. Pengetahuan manusia dibatasi oleh obyek terang di langit, obyek langit yang hanya bisa dikenali oleh mata bugil manusia dan secara reguler menampakkan diri di langit. Semula planet difahami sebagai benda langit yang berubah  kedudukannya di langit, untuk membedakan dengan bintang-bintang, obyek yang relatif tidak bergerak atau relatif tetap kedudukannya satu terhadap lainnya di langit. Planet dan bintang dulu dianggap benda-benda yang beredar mengelilingi Bumi. Pengertian dan pemahaman manusia tentang planet saat itu dibatasi oleh pengetahuan planet menyangkut dengan persepsi dan konsepsi manusia terhadap benda langit dan alam semesta.

Pandangan ini tidak terlepas dari konsep geosentris, pandangan manusia bahwa langit dan benda langit beredar mengelilingi Bumi. Konsep geosentris ini diformulasikan oleh seorang pemikir dan filosof Alexandria yaitu Claudius Ptolemaeus – Ptolemy (100 – 170 M) sekitar tahun 140 M dalam buku besarnya: Syntaxis (berarti Komposisi) atau dikenal the Mathematical System of Astronomy. Karya itu diterjemahkan kedalam bahasa Arab sebagai al Magest (al magisti, the greatest). Karena pengamatan benda langit terbatas dengan kemampuan mata bugil manusia maka “Planet Klasik” diketahui ada tujuh dan lima diantaranya adalah  planet terang yaitu planet Merkurius, Venus, Mars, Jupiter dan Saturnus. Selain lima planet terang itu defenisi lama planet mengandung pengertian semua pengembara langit termasuk Matahari dan Bulan dikategorikan sebagai planet. Bulan dan Matahari dimasukkan dalam defenisi planet, karena pada saat itu belum ada pembedaan fisik, hanya pembedaan obyek yang berpindah kedudukannya secara teratur. Ketujuh planet klasik inilah yang diduga menjadi dasar penggunaan nama hari, Sunday, Monday, Tuesday, Wednesday, Thursday, Friday, Saturday dan siklus sepekan terdiri dari tujuh hari. Dalam konsep klasik tentang obyek langit dan pengembara langit, Bumi merupakan pusat orbit benda langit lainnya. Kini diketahui bahwa satu-satunya obyek langit bermassa besar yang mengorbit Bumi adalah Bulan.

Teori Heliosentris menjadi pandangan baru masyarakat di zaman Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) merubah pandangan Bumi sebagai pusat alam semesta, Matahari merupakan pusat alam semesta. Bintang, planet Bumi juga planet lainnya beredar mengelilingi Matahari. Pandangan itu ada dalam treatise De Revolutionibus Orbis Celestium (On the Revolutions of the Celestial Spheres). Gagasan yang mengarah pada konsep Heliosentrik ini telah dimulai sejak zaman Aristarchos (320 – 250 SM), seorang Matematikawan dan Astronom Yunani Kuno, mempertanyakan relevansi konsep geosentrik, karena hasil pengamatannya menunjukkan bahwa Matahari merupakan benda yang lebih besar dari Bumi dan tidak sepantasnya benda yang lebih besar mengelilingi benda yang lebih kecil. Selain itu di zaman Astronomi Islam (abad 7 – abad 14), Ibn al-Shatir (meninggal 1375), seorang astronom Maragha (diwilayah Barat Iran) mengemukakan konsep peredaran planet yang tidak mengikuti konsep Ptolemy. Penggambaran konsep peredaran planet yang tidak mengikuti peredaran planet menurut konsep Ptolemy ada beberapa kemiripan misalnya dalam buku al Takhira karya Nazaruddin al Tusi (1261) dengan  On the Revolution of  the Heavenly Spheres karya Copernicus (1543). Kemungkinan gagasan tersebut lahir dalam kurun waktu keruntuhan institusi ilmiah sehingga gagasan baru tersebut tidak mempunyai daya mempengaruhi pandangan masyarakat Islam dan masyarakat internasional pada waktu itu. Pandangan Heliosentris masyarakat dunia menunggu hingga lahirnya seorang Copernicus lebih dari 150 tahun kemudian. Dukungan fakta pengamatan planet oleh Tycho Brahe (1546 – 1601),  Johanes Kepler (1571 – 1630) menjelaskan pergerakan planet. Hukum pergerakan planet itu  dikenal dengan Hukum Kepler dan sekaligus mengokohkan teori Heliosentris. Salah satu hukum Kepler itu mendiskripsikan hubungan antara jarak planet terhadap Matahari dengan periode Planet yang mengorbit Matahari, makin jauh jarak planet terhadap Matahari, periode orbit planet juga makin lama sebanding dengan jarak planet terhadap Matahari pangkat 1,5. Defenisi planet pasca Nicolaus Copernicus (1473 – 1543) melepas status Bulan dan Matahari sebagai planet. Selain itu juga memunculkan istilah pembagian planet historis menjadi planet-luar, planet yang jarak orbitnya terhadap Matahari lebih jauh dari jarak orbit Matahari-Bumi (untuk planet Mars, Jupiter,  Saturnus, Uranus, Neptunus dan Pluto) dan planet-dalam, planet yang jarak orbitnya terhadap Matahari lebih dekat dari jarak orbit Matahari-Bumi (untuk planet Merkurius dan Venus). Istilah planet-luar dan planet-dalam mengacu kedudukan pengamat di Bumi terhadap planet lainnya.

Redefenisi planet telah dilakukan, planet didefenisikan sebagai benda langit yang merefleksikan atau memantulkan cahaya Matahari dan mengorbit Matahari. Karakteristik fisik planet ikut dalam defenisi planet misalnya planet tidak bisa memancarkan cahaya sendiri, planet yang nampak bersinar di langit karena permukaan planet memantulkan cahaya dari bintang induknya. Pengertian planet secara inklusif, planet harus mengorbit bintang. Planet bagian dari sistem bintang induk dan salah satu komponen dari anggota anggota tatasurya. Historis pembentukan planet tidak terklasifikasi melalui defenisi planet yang sekarang dikenal melalui beberapa kamus. Bagaimana dengan Asteroid dan Komet, keduanya juga merefleksikan cahaya Matahari dan mengorbit Matahari, tapi bukan planet. Berapa batas massa minimal sebuah obyek langit yang dapat dikelompokkan sebagai planet? Apakah pengetahuan manusia planet Bumi tentang tatasurya akan mewakili pengertian planet di alam semesta?

Kalau diberi batasan massa bagi sebuah obyek yang dikelompokkan sebagai planet maka akan kelihatan ganjil karena massa planet Merkurius (3,3 x 1023kg) relatif kecil dibanding dengan Jupiter, massa planet Merkurius sebanding (hanya 2,23 kali lebih besar) dengan massa satelit alam planet gas raksasa Jupiter yaitu Ganymede (7,8 x 105 massa Jupiter = 1,482 x 1023kg, massa Jupiter = 1900 x 1024kg) atau hanya 2,46 kali lebih besar dari satelit alam Saturnus, Titan (2,36 x 104 massa Saturnus = 1,34284 x 1023 kg, massa Saturnus = 569 x 1024kg). Apa yang menjadi batasan “massa terkecil” sebuah obyek yang dapat dikatakan sebuah planet ? Masalah lainnya adalah Ceres asteroid dengan diameter 950 km (radius 457 km dan kerapatan 2,7 gr per cm3 atau massanya sekitar 0,01 x 1023 kg) apakah dapat dikatakan sebuah planet walaupun dilihat dari orbitnya Ceres beredar mengelilingi bintang induk Matahari, tapi massanya relatif sangat kecil?

Ketika asteroid terbesar (berdiameter 950 km) Ceres ditemukan dikira sebuah planet yang terletak diantara planet Jupiter dengan Mars. Ceres ditemukan tahun 1800an (1801) oleh Giuseppe Piazzi. Dulu Ceres dianggap planet ke-5 yang terprediksi oleh teori “Spacing Planet” Titius Bode yang memprediksi adanya planet diantara Jupiter dan Mars. Pendapat William Herschel dll, Ceres terlalu kecil dibanding dengan planet yang telah diketahui. Selain itu banyak obyek serupa yang mengorbit dalam sebuah kawasan yang sama, oleh karena itu Ceres dinamakan sebagai planet Kecil, planet Minor atau Asteroid.

Masalah lainnya, secara fisik planet Pluto sebenarnya merupakan obyek bagian dari Kuiper Belt Objects (KBO), “asteroid” di kawasan luar planet Neptunus. Namun dari segi orbit planet Pluto (0,132 x 1023kg) mungkin didominasi oleh planet Neptunus. Masalah lain asteroid Trojan yang berada pada kawasan jalur orbit planet Jupiter (titik Lagrangian L4 dan L5), keluar dari jalur orbit  kawasan sabuk asteroid utama di antara Jupiter dan Mars. Asteroid Trojan berukuran kecil tapi dinamika orbitnya sangat dipengaruhi oleh planet Jupiter. Apakah obyek seperti Pluto dan asteroid Trojan merupakan bagian dari sistem planet  karena ada pengaruh dominan pada orbit  Pluto dan Trojan ataukah masih bagian dari KBO atau kelompok Asteroid karena sifat fisiknya mempunyai kesamaan dengan kebanyakan KBO dan Asteroid?

Dalam ruang alam semesta terdapat benda langit dengan berbagai ukuran dari partikel elementer, atom, gas dan debu, planet, bintang dan galaksi.  Benda langit dengan daya yang besar mendominasi pemandangan langit malam, mengesankan keberadaan milyaran bintang. Bagaimana dengan obyek langit berdaya rendah atau bahkan tidak memancarkan cahaya sendiri hanya berfungsi sebagai pemantul atau penyebar cahaya, seperti debu, satelit alam, Bulan, asteroid , planet, komet dsb? Keberadaan obyek-obyek berdaya rendah dan benda padat ini mungkin secara kuantitatif sangat banyak namun tak mudah dilihat atau dideteksi dibanding dengan bintang terang. Bulan mempunyai massa 0,012  kali massa Bumi atau 1/81 kali massa Bumi, berdiameter 3476 km dan berjarak rata-rata 384460km dari Bumi, penampakannya di langit bisa memperdaya manusia.  Penampakan Bulan purnama pada malam hari yang mengesankan relatif sangat terang dan besar, walaupun sebenarnya Bulan benda langit yang kecil tapi dekat Bumi nampak lebih besar dari bintang yang jauh lebih besar tapi terletak pada jarak yang sangat jauh. Terang semu Bulan yang benderang saat purnama juga dapat memberi kesan yang salah terhadap planet dan bintang-bintang yang berdaya lebih besar. Keberadaan planet, benda langit dengan dayanya lebih besar dari Bulan purnama dan bintang, obyek langit yang berdaya jauh lebih besar dan bercahaya sendiri akibat pembangkitan energi fusi nuklir dipusatnya, namun nampak hanya sebuah titik cahaya di langit.

Bintang yang paling dekat adalah Matahari dikenal sebagai obyek tatasurya yang paling massive, mempunyai massa 1,99 x 1030 kg, benda yang paling besar dengan radius 6,96 x 105 km dan benda dengan daya yang paling besar yaitu berdaya 3,90 x 1026 watt dan bertemperatur 5880 K.  Sedangkan planet Jupiter dikenal sebagai planet yang terbesar ukuran dan massanya dalam sistem tatasurya. Planet Jupiter mempunyai daya 400 juta kali lebih kecil dibanding dengan daya Matahari. Massa planet Jupiter sekitar 300 kali (318 kali atau 1900 x 1024 kg) massa planet Bumi (massa planet Bumi 5,98 x 1024 kg, radius ekuator planet Bumi 6378 km) dan radius ekuator planet Jupiter 68700 km (atau 11,19 kali radius ekuator Bumi). Massa planet Saturnus sekitar 100 kali (95 kali atau 569 x 1024 kg, radius ekuator Saturnus 57550 km atau 9,01 kali radius ekuator Bumi) massa Bumi. Perbedaan yang mencolok antara  planet Jupiter  dengan Matahari adalah wujud materi di Matahari berupa plasma, zarah atau partikel yang bermuatan listrik, sedang di planet masih dalam bentuk molekul atau atom.

Pertanyaan yang menggelitik berapa massa terendah sebuah bongkah material dapat dikatakan sebagai sebuah planet, mengapa diklasifikasikan sebagai sebuah asteroid atau meteoroid atau satelit alam? Apa yang menjadi batas massa terbesar sebuah planet sehingga bisa terpisah dengan bintang? Adakah obyek langit yang terletak diantara planet dan bintang? Penemuan Brown-Dwarf atau Katai Coklat merupakan bagian penting untuk memahami keberadaan obyek diantara planet dan bintang. Manusia secara alamiah mengklasifikasi obyek-obyek dan memberinya nama, seperti planet, komet dsb. Sistem pengklasifikasian planet itu berevolusi dari hanya membedakan pergerakan di langit, kemudian sifat orbit obyek mengorbit Matahari bukan mengorbit planet untuk membedakan dengan satelit alam dan karakteristiknya sebagai pemantul cahaya Matahari. Bila sistem klasifikasi itu juga memperhitungkan tentang proses terbentuknya obyek langit tersebut, maka akan lebih rumit lagi. Istilah planet terrestrial, planet yang padat yaitu planet Merkurius, Venus, Bumi dan Mars dan planet gas raksasa, planet Jupiter, Saturnus, Uranus dan Neptunus. Klasifikasi ini juga mengandung historis pembentukan planet dalam tatasurya. Secara astronomis planet dapat terbentuk karena ledakan bintang, terbentuk dalam kawasan terisolasi di dalam Nebula ataukah terbentuk dalam bagian proses pembentukan sistem tatasurya. Bagaimana dengan bintang induk yang diorbiti extrasolar planet dengan massa yang jauh lebih besar dari planet Bumi? Apakah ada batas massa terbesar extrasolar planet  yang dapat dipergunakan acuan untuk mendefenisikan sebuah planet?

  1. Planemo, Planet, Fusor dan Bintang

Pada tahun 1990an atau satu dekade terakhir diketahui adanya obyek langit berupa benda beku atau es, yang mengorbit Matahari dengan lokasi lebih jauh dari orbit Neptunus, sekitar 1000 obyek telah ditemukan. Obyek ini dinamakan dengan Kuiper Belt Object atau KBO. Pertanyannya adalah apakah planet Pluto akan bernasib sama seperti Ceres?  Hanya sekitar satu dekade sejak penemuan Ceres (radius 457 km), status Ceres sebagai Planet Mayor berubah menjadi Planet Minor. Planet Pluto ditemukan pada tahun 1930an oleh Clyde Tombaugh. Pada saat ditemukan dikira Pluto seukuran planet Bumi. Tahun 1978 James Christy menemukan Charon dan gerhana Pluto-Charon berlangsung tahun 1985 – 1990, ternyata Pluto ( radius 1137 km) diketahui berdiameter dan bermassa  lebih kecil dari planet Merkurius (radius 2440 km). Pluto mempunyai ukuran 2/3 Bulan (radius 1737 km) dan mempunyai karakteristik KBO, penemuan anggota KBO lainnya seperti Varuna dan Quaoar dengan ukuran diiameter setengah Pluto memperkuat dugaan bahwa Pluto merupakan obyek KBO yang terbesar diketahui manusia saat ini. Tujuh bulan satelit alam planet Mayor (Satelit alam Bumi: Bulan (734,9 x 1023 gr), Satelit alam Jupiter: Io (893,3 x 1023 gr), Europa (479,7 x 1023 gr), Ganymede (1482 x 1023 gr), Callisto (1076 x 1023 gr), satelit alam Saturnus: Titan (1345,5 x 1023 gr), satelit alam Neptunus: Triton (214,7 x 1023 gr) dan Pluto (132 x 1023 gr), mempunyai massa 0,0025 massa planet Bumi (5,98 x 1024 kg). Tujuh dekade kemudian  Planet Pluto digugat statusnya, Pluto mempunyai kemiripan fisik dan lokasi orbit dengan KBO, kemungkinan besar Pluto merupakan anggota KBO. Penemuan lain adalah terdapat Free Floating Planet (FFP) dalam Galaksi, planet yang tidak menginduk Matahari, planet tanpa bintang induk atau planet yang menginduk planet bermassa besar. Planet lainnya adalah extrasolar planet, planet mengorbit bintang yang padam (misalnya Pulsar) maupun yang masih menyala dan Brown-Dwarf atau “bintang” Katai Coklat. Planet-planet tersebut tak bisa dilihat oleh mata bugil manusia seperti defenisi klasik tentang planet, planet sebatas yang terlihat oleh mata bugil manusia.

Massa dan karakteristik planet juga berbeda, ada planet terrestrial dan ada juga planet raksasa. Defenisi dan penamaan benda langit dilakukan secara sederhana. Kontroversi lainnya adalah pada akhir 1990an terdapat penemuan obyek terisolasi dengan massa 5 –12 massa Jupiter. Pusat obyek semacam ini tidak bisa menyulut reaksi termonuklir dan diberi nama Free Floating Object (FFO) untuk membedakan dengan planet, kalau planet mempunyai induk bintang, sedang free floating object (FFO) tanpa induk bintang. FFO mempunyai massa yang lebih kecil dari massa Brown Dwarf (Katai Coklat) yang mempunyai massa 13 – 75 Massa Jupiter. Penemuan baru extrasolar planet dan penemuan Free Floating Objects (FFO) juga memberi tantangan baru bagi defenisi sebuah planet. Pengetahuan rentang massa diantara massa planet Jupiter dengan Matahari merupakan pengetahuan yang masih relatif baru, secara teoritis masih memungkinkan terdapat bintang yang lebih kecil massanya dibanding dengan Matahari.

Tidak ada defenisi formal tentang planet oleh IAU (International Astronomical Union). Sebagian astronom berpandangan tidak penting tentang defenisi itu, alam memproduksi berbagai ukuran massa, sedang astronom ingin mengklasifikasi dan memberi nama. Kesukaran dalam mengklasifikasi obyek dan mendefenisikan planet berkaitan dengan tiga faktor yaitu apakah obyek langit bisa diklasifikasikan melalui karakteristik fisik planet? Ataukah melalui keadaan orbit obyek ataukah melalui asal muasal pembentukan obyek tersebut? Konsep baru tentang planet baru-baru ini disampaikan Prof. Gibor B. Basri Departemen Astronomy University of California, dan konsep tersebut diterima oleh IAU Working Group tentang extrasolar planet. Cepat atau lambat konsep ini akan segera mewarnai konsep tentang planet di masa depan yang tak lama lagi dalam teks book astronomi.

II.1 Fusor

Bila dilihat dari daya,  total energi yang dipancarkan persatuan waktu, secara jelas daya yang sangat besar dihasilkan Matahari berasal dari fusi nuklir atom Hidrogen, sedang daya planet Bumi berasal dari proses pemantulan permukaan dan angkasa Bumi dari cahaya yang dipancarkan oleh Matahari. Daya planet Bumi bukan berasal dari fusi nuklir. Jadi perbedaan pembangkitan daya obyek langit semacam ini menjadi acuan untuk membedakan antara planet dan bintang yang sering kita dengar dalam bangku sekolah. Batas atas massa sebuah planet ditentukan apakah massa tersebut melalui energi potensial gravitasinya dapat menyulut fusi nuklir. Gravitasi diri materi yang terhimpun dalam sebuah obyek akan memberi sumbangan dalam proses memanaskan dan meningkatkan kerapatan materi di pusat obyek tersebut.

Secara teoritis bila massa sebuah planet mencapai 13 massa planet Jupiter, maka pusat obyek akan mempunyai kemampuan menyulut fusi Deuterium, isotop berat Hidrogen terdiri dari 1 proton dan 1 netron, unsur yang paling mudah berfusi secara alamiah. Obyek yang demikian diberi nama Katai Coklat atau Brown Dwarf. Bila massa sebuah kumpulan materi yang terikat secara gravitasi mencapai 60 massa planet Jupiter pusat kumpulan materi tersebut akan melangsungkan fusi Lithium dan Hidrogen. Walaupun fusi telah berlangsung, namun kedua obyek itu belum dikatakan sebagai sebuah bintang. Secara teoritis bila massa kumpulan materi tersebut mencapai 75 massa planet Jupiter atau lebih besar maka pusat akan menyulut reaksi termonuklir fusi Hidrogen dan melahirkan bintang. Selanjutnya bintang-bintang yang baru lahir tersebut umumnya belum stabil, bergejolak. Daya berasal dari fusi Hidrogen dan menuju tahap yang lebih stabil, yaitu menjadi kelompok bintang deret utama dalam diagram H-R.

Bila massa kumpulan materi yang terikat oleh gravitasi itu lebih besar dari satu massa Matahari maka akan terbentuk fusi elemen yang lebih berat, misalnya fusi Helium dan bintang-bintang diklasifikasikan melalui kelas spektrum untuk membedakan daya, temperatur permukaannya dan radiusnya. Obyek yang pernah menyulut fusi nuklir di pusatnya dinamakan Fusor.

Apakah penahan keruntuhan materi karena gaya gravitasi dapat dipergunakan sebagai klasifikasi obyek langit? Pusat planet Bumi menahan keruntuhan materi lapisan planet Bumi yang lebih luar dengan fluida padat, magma  atau kumpulan atom. Pusat planet Gas Raksasa menggunakan tekanan gas ideal, kumpulan partikel bebas yang bertumbukan satu dengan lainnya, partikel bergerak lebih cepat dan bertumbukan lebih keras pada temperatur yang lebih tinggi saat partikel-partikel itu dihimpun ke dalam ruang yang lebih sempit. Bila massa makin besar elektron terdegenerasi, elektron akan terkompresi dalam volume/ruang yang lebih ciut dan kerapatan bertambah. Bila massa materi mencapai 2 hingga 75 massa planet Jupiter tekanan elektron dalam keadaan tergenerasi akan menjadi penahan keruntuhan gravitasi materi bagian luar planet. Pada kondisi tekanan makin besar, elektron (dengan spin up and down) tidak bisa dimampatkan atau dijejalkan sehingga  kondisi berenergi rendah tidak bisa bergerak, karena ada Prinsip Larangan Pauli dalam mekanika kuantum, elektron akan dipaksa bergerak lebih cepat walaupun tidak ada tambahan panas. Di pusat bintang, penahanan materi bagian atas yang runtuh gravitasi kembali ke tekanan gas ideal yang dibangkitkan oleh panas yang intens  berasal dari fusi Hidrogen dalam reaksi termonuklir.

Penamaan planet diperuntukkan bagi kumpulan massa dengan massa hingga 2 massa Jupiter, dan bila massa obyek langit yang termampatkan berada dalam rentang massa 2 – 13 massa Jupiter  dinamakan superplanet. Ekstra solar planet yang telah diketahui kebanyakan mempunyai massa 2 kali massa Jupiter.

Batas bawah planet adalah keruntuhan gravitasi bisa membentuk planet bundar, massa cukup sehingga gravitasi massa mengatasi material yang barang kali membentuk bentuk yang tidak simetri. Mulai dari massa Ceres asteroid dengan diameter di atas 500 km akan berbentuk bundar. Bagaimana planet Minor dan planet Mayor ? Asteroid, komet dan KBO terlalu kecil untuk mencapai gravitasi massa yang membentuk bundar. Nampaknya masih agak sukar menggunakan bentuk fisik dalam hal mengklasifikasi obyek batas bawah. Apakah mengorbit fusor selalu harus menjadi persyaratan sebuah planet? Kosmogoni tidak mempunyai dasar yang jelas dan tidak termasuk dalam defenisi dasar planet. Klasifikasi obyek lebih berdasar pada karakteristik obyek, bukan circumstance (dan cosmogony) untuk obyek astrofisika.Tradisi kultural masih terlalu kuat melekat pada keinginan untuk mendefenisikan sebuah obyek dengan mengakomodasi keinginan publik dan astronom.

Beberapa nama yang dapat dipergunakan seperti planet aglomerasi (agglomerated planets) untuk planet yang terbentuk dari planetesimals seperti planet terrestrial. Nama planet-akresi (run-away gas-accretion planets) merupakan istilah untuk planet yang terbentuk dengan cara menyapu gas dan debu dalam piringan nebula seperti planet gas raksasa, planet Jupiter dan Saturnus. Nama (planet-runtuh gravitasi) Direct collapse planets, istilah untuk planet terbentuk ketidak stabilan piringan/disk seperti Extra Solar Planets massive yang ditemukan akhir-akhir ini. Planet-tergenerasi (Degenerate planet) merupakan istilah dipergunakan untuk planet yang mempunyai massa 2 – 13 massa Jupiter. Planet-pentalan (Ejected-Planet) istilah untuk planet yang terbentuk karena terpental dari sistem. Sedang untuk 9-planet dalam tatasurya yang sering dirujuk sebagai planet dalam teks-book dinamakan planet-historis (historical planets).

II.2 Pendekatan historis

Planet terbentuk melalui proses terbentuknya planetesimal berdiameter sekitar 1 km dalam bentuk es, karang atau campuran karang dan es. Kemudian bongkah karang planetesimal bertabrakan, terhimpun dan membentuk planet. Bagian dalam atau yang lebih dekat dengan bintang induk terlalu panas untuk es planetesimal, oleh karena itu terbentuk planet terrestrial, komponennya lebih banyak karang dan sedikit gas. Bagian luar, bagian kawasan yang lebih jauh dari bintang induk lebih banyak es dibanding dengan bagian dalam, oleh karena itu planet yang lebih besar terbentuk di bagian yang lebih luar. Penggabungan planetesimal sekitar 10 – 15 massa Bumi, gaya gravitasi gas hidrogen dan helium bertambah dalam piringan hingga 99% massa protoplanetary disk.

Planet seharusnya didefenisikan dari pembentukan planetesimal termasuk mengorbit Fusor atau bukan. Namun model standard non-Fusor mengorbit Fusor masih ada ketidak pastian. Kenyataan dilangit terdapat lebih setengah bintang terang mempunyai pasangan bintang, Fusor – Fusor. Obyek masif, bermassa lebih besar, bisa terbentuk tanpa proses pembentukan planetesimal, seperti yang ditunjukkan oleh pasangan dalam bintang ganda. Pertanyaan berlanjut apakah extrasolar planet (dengan komponen Brown Dwarf) juga terbentuk dengan cara seperti bintang Ganda, tanpa planetesimal? Alan Boss dari Canergie Institute mengemukakan gagasan bahwa mungkin terdapat ketidak stabilan dalam protoplanetary disk yang menjadi penyebab gas dan material padat pengikut protoplanetary collaps/runtuh lebih cepat dan membentuk planet. Proses proses teoritis dalam komputer menunjukkan proses yang bisa diterima, namun apakah alam memproduksi skenario yang ditunjukkan dalam komputer?

FFO (Free Floating Object) yang bukan Fusor terbentuk pada pusat piringan, tanpa ada Fusor yang terlibat. FFP (Free Floating Planet) mungkin terbentuk melalui proses semacam ini. Mungkin jumlah obyek yang terbentuk melalui mekanisme semacam ini, terbentuk dalam piringannya sendiri relatif sedikit.

Alternatif lainnya terbentuknya FFP berasal dari planet raksasa yang terbentuk di sekeliling bintang dengan cara tradisional. Planet kemudian akan berinteraksi secara gravitasi dan dipentalkan yang kemudian menjadi FFP di ruang antar bintang. Banyak planet raksasa yang dekat dengan bintang induk terbentuk dengan cara ini untuk bisa mencapai orbitnya sekarang. Jumlah non-Fusor yang mempunyai orbit terdalam menyarankan bahwa paling mungkin FFP tidak terbentuk dengan mekanisme seperti ini, namun tidak dapat diyakinkan.

Lebih kompleks lagi ternyata Brown Dwarf dan Extrasolar planet terbentuk dengan cara berbeda. Planet extrasolar mengorbit lebih dekat ke bintang induk dan massanya sebesar planet Jupiter dan sedikit yang bermassa lebih besar atau 3 kali massa Jupiter. Sedikit Brown Dwarf yang ditemukan dalam kondisi ini. Dalam padang Brown Dwarf, ditemukan Brown Dwarf yang terisolasi, selain itu terdapat Brown Dwarf ganda atau Brown Dwarf berpasangan, atau Brown Dwarf mengorbit di sekitar bintang sejenis Matahari pada jarak yang relatif jauh. Non-Fusor terbentuk dengan cara berbeda dengan Fusor, bila non-Fusor terdapat dalam kondisi mengorbit dekat dengan bintang sejenis Matahari.

Sangat sukar membedakan dan mengklasifikasi melalui defenisi kosmogoni. Cara klasifikasi melalui lemah atau terang cahaya planet juga belum dapat mengklarifikasi dengan jelas. Pengetahuan tentang pembentukan planet belum cukup banyak tidak cukup untuk mendefenisikan dan sangat sulit memilih mode pembentukan obyek. Bagaimana planet Jupiter terbentuk dalam tatasurya juga belum sepenuhnya dimengerti, pusat Jupiter merupakan karang es, kebenaran hipotetik yang diterima pada masa lalu hingga sekarang. FFO non-Fusor menunjukkan contoh tidak dapat seperti biasanya mengungkap pengamatan obyek yang secara historis memenuhi syarat didefenisikan sebagai planet dalam perspektif  kosmogoni. Diperlukan suatu defenisi sebuah planet yang dapat diuji melalui pengamatan dan tidak bergantung pada teori yang belum teruji kebenarannya.

II.3 Planemo

Penyelesaian kontroversi defenisi planet melalui massa, karakteristik fisik dan kondisi orbit planet. Untuk mempertemukan tuntutan kultural planet didefenisikan sebagai Planemo yang mengorbit Fusor. Fusor sebuah obyek yang mempunyai massa sehingga bisa menyulut pembakaran fusi, batas massa Fusor mulai dari 13 kali massa Jupiter. Termasuk  dalam defenisi ini adalah Brown Dwarf, Bintang, Remnant bintang seperti bintang Katai Putih dan bintang Neutron. Extrasolar planet dengan massa 13 kali massa Jupiter dan Brown Dwarf menjadi Fusor, bukan extrasolar planet.

Planemo (Planetary Mass Object) merupakan obyek non-Fusor yang mempunyai gravitasi diri sehingga cukup membuat bentuknya bundar, Planemo mempunyai rentang massa antara 0,0001 massa Bumi (sepersepuluh ribu kali lebih kecil dari massa Bumi) hingga 13 kali massa planet Jupiter. Defenisi baru tentang planet ini diharapkan bisa memenuhi harapan publik dan astronom, dan menyelesaikan kontroversi yang belum terselesaikan selama ini. Defenisi Planemo lebih umum dari Planet karena tidak melibatkan keadaan lingkungan, hanya dibatasi oleh parameter massa. Obyek non-Fusor mungkin lebih cenderung Planemo yang terisolasi dan tidak dimasalahkan asal muasal atau historis obyek non-Fusor. Bulan satelit alam planet Bumi juga merupakan Planemo, Bulan tidak dinamakan planet karena tidak mengorbit Fusor  melainkan mengorbit non-Fusor yaitu planet Bumi. Pluto tetap merupakan sebuah planet karena Pluto mengorbit Fusor, Matahari. Namun juga ada perubahan status bahwa Ceres, Varuna dan Quaoar juga disebut planet karena obyek-obyek tersebut mengorbit Fusor Matahari. Sukar mendapat sebuah kriteria rasional yang memasukkan Pluto sebagai planet dan mengeluarkan asteroid dari status planet. Mungkin bisa ditambahkan kriteria jumlah panas Fusor yang ditangkap oleh permukaan Planemo, yang sebenarnya sebanding dengan ukuran dari luas permukaan sebuah obyek atau ukuran obyek itu sendiri.

Mungkin Pluto, Ceres dan beberapa jenis asteroid atau planet Minor  bisa berubah status menjadi sebuah planet menurut defenisi baru tersebut. Mungkin  jumlah Planet akan lebih banyak, delapan ditambah beberapa planet minor yang memenuhi kriteria dalam defenisi baru planet. Mungkin bisa mencapai lebih dari 100 planet Minor yang terseleksi oleh defenisi baru tentang planet. Apalagi masih banyak anggota KBO yang belum ditemukan. Publik perlu terbiasa dan mengetahui gagasan tentang Planet dan Planemo.

Planet terbentuk dari planetesimal. Mungkin juga dibentuk melalui mekanisme run-away gas pada piringan atau disk planet ke planet melalui mekanisme penyapuan gas (seperti planet Jupiter dan Saturnus) dan keruntuhan langsung oleh gravitasi diri pada disk stabilities. Bila secara obyektif diklasifikasikan menjadi planet terrestrial dan planet Gas Raksasa, keadaan tekanan terdegerasi, untuk massa 2 – 13 massa Jupiter, planet yang terbentuk karena mekanisme dinamika sehingga terpental dari satu bagian Fusor maupun non-Fusor relatif sedikit.

Bila ada Planemo yang mengorbit Fusor dengan massa 2 –13 massa Jupiter dinamakan superplanet. Secara teoritis obyek dengan gravitasi diri bermassa 13 – 75 kali massa Jupiter dikategorikan sebagai Fusor. Bila massa Fusor antara 13 – 60 kali massa Jupiter, Katai Coklat, fusi Deutrium bisa berlangsung dan bila massa Fusor antara 60 – 75 kali massa Jupiter, Katai Coklat dengan fusi Lithium dan Hidrogen berlangsung di pusat Fusor. Bila massa Fusor mencapai 75 kali massa Jupiter merupakan bintang karena energi potensial gravitasi mampu menyulut reaksi termonuklir fusi Hidrogen di pusat bintang.

Berbagai penemuan object langit di kawasan aktif pembentukan bintang (active star forming region) di Nebula Orion menunjukkan adanya obyek dengan gravitasi diri bermassa beberapa kali massa planet Jupiter. Mekanisme pembentukan obyek tersebut masih bisa diperdebatkan. Mungkin terbentuk dari kumpulan awan molekul yang dingin, Fusor terbentuk karena adanya kontraksi pada bagian kumpulan terpadat nebula dan membentuk fragmentasi awan nebula dan runtuh melalui gravitasi diri, penambahan fragmentasi material dari lingkungan sekitar sehingga mencapai massa yang cukup untuk menyulut fusi nuklir. Skenario lainnya adalah obyek tersebut merupakan obyek yang terpental dari kelahiran sistem bintang multiple atau sistem bintang jamak.  Material yang terpental itu tidak cukup untuk menjadi bintang, tapi cukup untuk menjadi Fusor Katai Coklat atau mungkin hanya sebatas Planemo. Mengapa Brown Dwarf atau Katai Coklat yang mengorbit bintang relatif sedikit ? Mengapa Brown Dwarf dengan distribusi di kompleks kelahiran bintang T Tauri berjumlah banyak ? Mengapa Brown Dwarf ditempat terisolasi lebih mudah dideteksi dan diidentifikasi ? Proses penambahan materi Brown Dwarf melalui piringan dapat dideteksi dengan menggunakan radiasi Inframerah yang dipancarkan oleh obyek tersebut. Proses ini akan memperkuat dugaan bahwa proses pembentukan Brown Dwarf seperti proses pembentukan bintang biasa.

III. Definisi baru tentang Planet
IAU 2006 General Assembly: Result of the IAU Resolution votes

  1. August 2006, Prague

RESOLUTION 5A

The IAU therefore resolves that “planets” and other bodies in our Solar System be defined into three distinct categories in the following way:

(1) A “planet”1 is a celestial body that (a) is in orbit around the Sun, (b) has sufficient mass for its self-gravity to overcome rigid body forces so that it assumes a hydrostatic equilibrium (nearly round) shape, and (c) has cleared the neighbourhood around its orbit.

(2) A “dwarf planet” is a celestial body that (a) is in orbit around the Sun, (b) has sufficient mass for its self-gravity to overcome rigid body forces so that it assumes a hydrostatic equilibrium (nearly round) shape2 , (c) has not cleared the neighbourhood around its orbit, and (d) is not a satellite.

(3) All other objects3 except satellites orbiting the Sun shall be referred to collectively as “Small Solar-System Bodies”.

 

Moedji Raharto

Prodi Astronomi & KK Astronomi – FMIPA

Iklan

KALENDAR MAYA DI DUA ZAMAN

Langit penuh misteri bagi manusia, menyeramkan, menakjubkan, menantang untuk difikirkan, diamati dan difahami keberadaannya. Apa makna dan keterkaitan fenomena – fenomena langit yang beraturan bagi kehidupan manusia? Tidak dapat dipungkiri perjalanan kehidupan manusia masa lalu mempersepsi benda langit sebagai Dewa yang melekat pada nama benda langit, cerita atau dongeng,  benda langit adalah sesuatu yang menyeramkan pertanda datangnya bencana di Bumi dan mengawasi tingkah laku maupun nasib manusia.  Apakah langit hanya tempat bersemayam para dewa atau tempat datangnya ancaman bagi penghuni planet Bumi? Apakah fenomena – fenomena langit yang beraturan merupakan jadual ritual untuk para dewa atau jadual untuk menyerahkan sesembahan bagi para dewa? Keteraturan kehadiran benda langit direfleksi untuk mengetahui ritme keteraturan nasib manusia melalui system calendar dan berkembang sebagai astrologi yang masih dipergunakan oleh sebagian manusia untuk meramal masa depan nasib manusia. Begitupula kehidupan bangsa Maya, banyaknya system calendar yang dipergunakan bangsa Maya kemungkinan adalah adanya pemahaman ketidak unikan ritme peristiwa dalam kehidupan manusia dan tidak bisa digambarkan atau didiskripsikan oleh sebuah siklus dari fenomena fasa Bulan, Venus (Venus dalam Mitologi Romawi adalah Dewi Cinta dan Kecantikan, dalam Yunani Kuno disebut Aphrodite) maupun siklus tropis Matahari saja, penggabungan dengan jumlah jari manusia, angka 20 dianggap sesuatu yang universal untuk perhitungan siklus – siklus dalam system calendar Maya.

Fenomena yang langka seperti supernova, ledakan sebuah bintang yang sangat terang seperti Vela, Crab Nebula atau kehadiran komet (= bintang berekor) terang dsb mungkin akan menjadi catatan-catatan penting sebagai fenomena yang tak beraturan bagi manusia terdahulu.  Supernova dianggap sebagai bintang tamu, Komet dianggap sebagai api yang terlempar dari Bumi atau pertanda kematian para raja. Fenomena gerhana Bulan atau gerhana Matahari walaupun langka masih mungkin dikenali keteraturannya dan akan menjadi catatan penting, karena fenomena itu difahami sebagai kemarahan atau ketidak sukaan para dewa terhadap ulah manusia atau kelompok manusia.

Fenomena rutin bergantinya pemandangan rasi – rasi bintang di langit dan berlalunya Matahari di antara zodiac atau rasi – rasi di ekliptika sepanjang tahun lebih difahami sebagai pola nasib kehidupan manusia. Kini fenomena itu difahami menaut pada pola perubahan musim tahunan dan pola perubahan musim global.  Perubahan wajah Bulan dari bentuk sabit membesar hingga bulan Purnama dan kemudian mengecil kembali menjadi sabit bulan tua dan bulan mati berulang terus, seirama dengan pola pasang – surut air laut tidak mudah difahami bagi manusia yang berdiam jauh dari laut. Fenomena kehadiran planet terang di langit seperti planet Saturnus, Jupiter, planit Mars,  planet Venus  dan planit Merkurius tidak luput difahami sebagai pertanda yang dihadirkan para Dewa. Penggunaan susunan Batu yang tertata seperti Stonehenge, Piramida, kuil – kuil atau candi – candi tua tempat pemujaan dewa merupakan jejak – jejak masa silam memahami dengan lebih baik, lebih presisi tentang perilaku pengembaraan benda langit atau siklus – siklus penting benda langit.

Planit Mars yang berwarna merah, bisa makin terang sehingga mencolok mata pada saat menjelang masa oposisi Mars, warna merah dikaitkan dengan darah dan peperangan. Persepsi yang lebih maju kehadiran oposisi Mars setiap 2 tahun lebih itu sering menakutkan karena disangka datangnya komet yang akan menabrak Bumi. Begitupula planit Merkurius, berkelakuan seperti planet Venus yang menjadi bintang pagi atau bintang sore. Perbedaannya kalau planet Venus bisa menjadi amat terang lebih terang dari bintang Sirius, bintang yang paling terang di langit, sedang planet Merkurius tidak seterang planet Venus. Begitupula kedudukan planet Merkurius relatif lebih rendah dibanding kedudukan planet Venus.  Planit Venus bisa menjadi planet yang sangat terang di dekat kaki langit Barat maupun kaki langit Timur, pada pagi atau senja hari.

Fenomena langit semacam itu berlalu berpuluh tahun, beratus tahun, beribu tahun dan bahkan berjuta atau bermilyar tahun.  Suku bangsa di kawasan China, Babilonia, Meso-Amerika, Inggeris dan wilayah lainnya di dunia secara terpisah merespon terhadap fenomena langit tersebut dlsb, mereka melakukan aktivitas mengamati benda langit dan memahaminya serta mencari manfaatnya.

Pada zaman pra teleskop fenomena itu telah menarik perhatian dan menjadi sesuatu yang penting yang menetukan nasib masa depannya, oleh karena itu obyek – obyek itu mendapat perhatian yang serius, kemudian direspon mahluk cerdas penghuni planit Bumi dengan beragam cara diantaranya adalah membangun tempat pengamatan, tempat menandai waktu obyek berada dalam areal pengamatannya. Piramida di Giza (2700 SM) Mesir sebagai rumah peristirahatan pharaohs mengandung geometri dan matematika bilangan π, sudut kemiringan 51⁰ 52′, (tan 51⁰ 52′ = π/4 sekitar 1/7 lingkaran); suku Britons membangun Stonehenge, batu-batu besar megalith di selatan Inggeris (3500 SM),  bangunan candi tua Amon Ra, Khonsu dan tempat pemujaan – pemujaan lainnya merupakan jejak artifak, bukti – bukti sejarah tentang respon manusia terhadap langit pada masa – masa tersebut.

Isu kiamat 2012 berlalu menjelang akhir tahun 2012 menjadi berita selingan masyarakat dunia. Isu kiamat 2012 itu berawal dari sebuah sistem kalendar Maya di Mesoamerika. Para archeoastronomi mengungkapkan keberadaan  beberapa sistem calendar Maya diantaranya adalah Kalendar “Tzolkin” :“ pembagian hari ”,  Kalendar “Haab” dan Kalendar “Long Count”.

Isu tersebut dikaitan dengan sistem penanggalan Maya “Long Count” mencapai tanggal 13 0 0 0 0 pada tanggal 21 Desember  2012, angka 13 dianggap sesuatu yang sacral, merupakan jumlah lapisan langit dalam kosmologi Maya, dan konfigurasi 13 0 0 0 0 menandakan manusia memasuki dunia atau alam baru yang diinterpretasi sebagai hari kiamat. Isu tersebut berlalu tanpa peristiwa “kiamat”.  Jumlah hari sejak penciptaan adalah 0 x 1 + 0 x 20 + 0 x 18 x 20 + 0 x 18 x 20 x 20 + 13 x 18 x 20 x 20 x 20 =  1872000 hari = 13 Agustus 3114 SM (12 Agustus 3114 SM)

this starting-point is equivalent to August 11, 3114 BC in the proleptic Gregorian calendar or 6 September in the Julian calendar (−3113 astronomical)

Dalam calendar long count itu dikenal unit hari, kata “kin” (berarti Matahari dan Waktu) merepresentasikan hari,  1 kin = 1 hari dan tidak terdapat pembagian hari ke dalam unit yang lebih kecil, kemudian dikenal unit yang lebih besar yaitu “uinal”, 1 uinal = 20 kin = 20 hari. Siklus berikutnya adalah dikenal unit “tun”,  1 tun = 18 uinal = 360 kin = 360 hari,  mengapa bukan I tun = 20 uinal = 20 x 20 = 400 supaya konsisten dengan unit sebelumnya?, angka ini merupakan indikasi bahwa siklus tahunan posisi Matahari dimasukkan sebagai unsur dalam sistem kalendar Maya.  Unit yang berikutnya adalah “katun”, 1 katun = 20 tun = 7.200 kin = 7.200 hari,  unit yang berikutnya adalah “baktun” ,  1 baktun = 20 katun = 144.000 kin = 144.000 hari dan dilanjutkan dengan “piktun”, 1 piktun = 20 baktun, “kalabatun”, 1 kalabtun = 20 piktun, “kinchiltun”,  1 kinchiltun = 20 kalabtun dan “alautun”, 1 alautun = 20 kinchiltuns.

Isu kiamat  tersebut dapat dilihat dari berbagai sudut pandang, mungkin masyarakat di masa suku Maya jaya (beberapa ratus tahun SM) akan mempercayai dan melakukan berbagai ritual untuk menolak datangnya kiamat atau yang lainnya, bagaimana dengan respon masyarakat sekarang ?   Sistem calendar vigesimal, berbasis 20 (berdasar jumlah jari manusia yang universal) di gabung dengan keteraturan dalam kosmos. Tidak ada model yang sederhana dalam menjelaskan keterkaitan antara siklus Venus, fasa Bulan dan musim tahunan (seperti hukum Kepler yang difahami dalam astronomi modern). Penyederhanaan, hanya dengan menggunakan angka – angka pendekatan untuk siklus – siklus benda langit atau fenomena langit dibangun system calendar visegesimal.

Walaupun masyarakat dunia di abad 21 ini memasuki zaman informasi, zaman  knowledge based  society, namun realitas masyarakatnya  sangat beragam,  masyarakat mozaik yang terdiri dari masyarakat informasi, masyarakat modern, masyarakat post modern dsb. Istilah istilah itu melekat pada kelompok kelompok masyarakat dunia dan tidak melenyapkan sama sekali keberadaan kelompok masyarakat tradisional yang lebih mengedepankan intuisinya yang bisa mempercayai kehadiran ramalan – ramalan kiamat pada hari – hari tertentu.

Masyarakat informasi merespon positif isu yang berkembang itu dengan pandangan rasional melihat kembali pengetahuan manusia dan mengombinasikan dengan hasil – hasil penelitian terakhir tentang astronomi, mencari sesuatu peristiwa besar yang akan mengusik biosfer kehidupan di planet Bumi dari perjalanan Bumi dan Matahari di ruang alam semesta.  Apakah ada peristiwa badai Matahari yang dahsyat sehingga mengganggu kenyamanan hidup manusia? Ataukah akan ada tabrakan tatasurya antara Bumi dengan  Asteroid yang menghancurkan biosfer Bumi ?  Ataukah akan ada tabrakan Galaksi tempat Matahari berada dengan galaksi Andromeda atau galaksi lainnya? Ataukah akan ada tabrakan Matahari dengan bintang – bintang lainnya? Ataukah akan ada gempa – gempa besar yang menghancurkan sebagian besar gedung – gedung dan mematikan jutaan manusia? Ataukah akan ada letusan puluhan gunung api secara bersamaan di Bumi sehingga mengganggu stabilitas biosfer Bumi? Ataukah akan ada peristiwa – peristiwa besar lainnya peperangan besar atau peperangan kecil yang banyak jumlahnya, serangan penyakit yang mematikan dan belum ditemukan obatnya dls?

Lega bahwa isu kiamat itu tidak terbukti, bukan berarti kiamat tidak ada. Isu itu telah disanggah sejak beberapa tahun silam, dengan sanggahan yang mempunyai landasan ilmiah. Sanggahan bukan sebuah arogansi masyarakat ilmiah, namun intuisi manusia perlu diperiksa dengan pengetahuan dan rasionalitas manusia, walaupun pengetahuan manusia belum lengkap. Pemeriksaan atas isu itu apakah mengandung kebenaran atau memang salah dan menyesatkan atau perlu diperbaiki, disempurnakan atau dipertajam rumusannya. Semuanya memang merupakan persoalan yang terbuka untuk diselesaikan.  Manusia tidak menyukai kenyamanan hidupnya dalam biosfer Bumi terusik oleh peristiwa yang mengeramkan, manusia akan mengantisipasi dan mencoba mempertahankan hidupnya. Kelompok mitigasi bencana yang ada di masing – masing Negara memang telah ada namun mungkin tidak memadai untuk menanggulangi bencana dalam skala sangat besar. Berbagai macam scenario atas bencana besar planit Bumi dan bagaimana cara penyelamatannya terus bisa dikembangkan dan menjadi bagian bisnis manusia.

Keberadaan kiamat, kehancuran akan skala besar planit Bumi yang belum tergambarkan merupakan bagian intuisi manusia yang tidak bisa dihapus,  melekat sebagai bagian dari keyakinan manusia. Pada abad informasi ini manusia menjadi mengenal lebih dekat, dilihat, dirasakan dan tergambarkan kedahsyatan bencana besar seperti bencana gempa-gempa besar yang meruntuhkan gedung besar dan diiringi dengan tsunami yang menyapu habis sebuah wilayah pernah dialami manusia – manusia di tempat lain misalnya gempa tsunami 26 Desember 2004 di Aceh, gempa 11 Maret  2011 dengan skala 8.9 skala richter diiringi dengan tsunami di Sendai – Jepang. Selain itu masih banyak lagi bencana badai dan topan, bencana oleh musim yang ekstrim dan bahkan pengetahuan mengungkap berbagai bencana dapat menimpa planet Bumi berasal dari ruang angkasa.

Adanya hari Kiamat (hari Akhir) juga merupakan bagian rukun iman umat Islam, seperti halnya mempercayai adanya Allah, adanya Rasul, adanya Malaikat, adanya kitab Suci al Qur’an, dan adanya takdir.  Kitab suci al Qur’an juga menegaskan adanya hari kiamat, walaupun mempunyai makna kiamat adalah “kebangkitan” (kebangkitan manusia dipadang masyhar) namun Kiamat di dahului oleh huru hara dan peristiwa yang tak tergambarkan dahsyatnya, jauh lebih dahsyat dari yang pernah di lihat manusia. Alam semesta dan isinya termasuk  planet Bumi tempat kehidupan manusia, Matahari, bintang akan mengalami proses kehancuran. Bagaimana dan bilamana tak ada yang bisa memastikannya? Pengetahuan manusia hanya bisa menerawang berbagai kemungkinan dan memahami sebagian dari isarat isarat kedatangan kiamat dari kitab suci.  Mudah – mudahan isu kiamat dapat menggerakkan manusia untuk memperdalam pengetahuan fenomena dan obyek – obyek alam semesta melalui rasionalitasnya.

MISTERI KALENDAR MAYA

Kalendar Tzolkin :“ pembagian hari ”.

Suku Maya membangun sebuah sistem penjejak waktu berjangka panjang, kalendar cosmos. Tzolk’in kalendar yang berasosiasi dengan siklus planet Venus. Planet Venus merupakan planet yang paling terang bila penampakannya  sebagai bintang Timur atau bintang Fajar dan juga menjadi bintang Barat atau bintang Senja. Perubahan bintang senja menjadi bintang fajar perlu waktu sekitar 2 pekan (14 hari), angka 260 hari menjadi pilihan? Mengapa? Apakah berasosiasi dengan siklus sinodis planet Mars dewa perang 780 hari, 3 kali 260 merupakan kehadiran planet Mars yang Merah dan terang di langit?  Ada yang mengusulkan mungkin terdapat rangkaian data pengamatan 246-14-246-78 (periode bintang pagi 246 hari, menghilang (inferior conjunction) selama 14 hari, periode bintang sore 246 hari dan menghilang (superior conjunction) selama 78 hari dan secara total  berjumlah 584 hari sebagai periode sinodis Venus.  Periode sinodis Venus bervariasi dari 579 hari hingga 589 hari.

Bangsa Maya (pre Indian Kolombia) di semenanjung Yukatan (Amerika Tengah) telah mengamati penampakan planet Venus selama ber abad – abad dan mereka mengetahui (periode Venus sebagai “Bintang Pagi”, kemudian menghilang (inferior conjunction), periode “Bintang Sore” dan menghilang (superior conjunction) sekitar hamper 3 bulan, fenomena itu digambarkan dengan angka – angka 250-8-236-90 atau 252-12-243-77, 244-15-244-81 (Totonac Venus) jumlah kelima angka tersebut menggambarkan siklus sinodis planet Venus, atau siklus kenampakan atau ketidak nampakan planet Venus dari Bumi. Pengetahuan mereka tentang siklus penampakan palnet Venus dizaman pre-teleskop sangat informatif, mendekati angka angka yang diperoleh pada zaman teleskop dan zaman modern.

Dalam struktur kalendar ini memuat siklus dengan periode 260 hari “ sinodis Venus” sebagai bagian yang dimasukkan ke dalam kalendar, terdiri dari 20 minggu yang masing-masing terdiri dari 13 hari (13 hari x 20 minggu = 260 hari), mengkombinasikan 20 nama-nama hari dengan 13 angka. Siklus 260 terlalu singkat untuk siklus berulangnya musim karena baru 73 kali siklus 260 hari (73 x 260 = 52 x 365 = 1890 hari) akan bertemu dengan musim sama. Jadi kombinasi keduanya menjadikan satu siklus hanya 52 tahun (tropis).

Siklus yang dipergunakan dalam calendar Maya tidak eksak, melainkan sebuah pendekatan – pendekatan sehingga antara siklus penampakan “Venus” dan menarik 9 kali siklus sinodik  9 x 29.53 hari = 265.77 hari dan  360 dekat dengan tahun tropis 365.2422 hari. 19 x 29.53 hari + 23 hari = 584.07 hari.

Ratio bintang senja atau bintang pagi terhadap siklus paruh gerhana 173.5 hari berbanding 2:3, merupakan siklus pendekatan untuk gerhana dan penampakan venus.

Kalendar Haab:

Kalendar Haab merupakan kalender Matahari dengan siklus 365 hari, terdiri dari 18 bulan yang masing-masing berjumlah 20 hari dengan 5 hari tambahan di akhir tahun yang disebut ’wayeb’.

Diperkirakan Haab’ dipergunakan pertama kali sekitar 550 SM, dengan awal waktu ‘winter soltice’.  Hubungan dengan siklus Tzolkin adalah : 73 x 260 = 52 x 365 = 1890 hari. Periode sinodis Venus (584 hari) dan periode tropis Matahari (365.2422 hari dibulatkan 365 hari) yang menjadi indicator berulangnya musim mempunyai keterkaitan dengan penampakan Venus sebagai bintang pagi/sore dengan relasi setiap 8 tahun sekali atau 8 x 365 = 5 x 584 = 2920 hari.  Siklus yang merangkai siklus 260 hari, siklus sinodis Venus dan siklus tropis berulang setiap 104 tahun atau 104 x 365 = 65 x 584 = 146 x 260 = 37960 hari.

Setiap 46 tahun siklus 260 hari akan berkaitan dengan siklus sinodik Bulan atau 405 x 29.53 = 46 x 260 = 11960 hari.  Siklus yang lebih eksak lagi berkaitan dengan siklus sinodis Venus terhadap 260 hari adalah 5256 x 260 = 3744 x 584 = 1752 x 3 x260= 36 x 37960 hari = 1366560 hari.

Long Count

Karena sistem kalender maya kebanyakan memiliki rentang waktu yang pendek seperti Kalender Tzolk’in  yang berakhir dalam 260 hari, atau kalender Haab yang hanya 365 hari, Suku Maya kemudian menggabungkan kedua kalender ini membentuk “Kalendar Round”. Siklus yang akan berakhir setelah 52 Haab

Karena tidak  bisa merekam kejadian sejarah yang lebih tua dari 52 tahun, mereka memperluas jangkauan “Kalendar Round”. Kalendar hasil perluasan ini adalah kalendar Long Count. Kalendar ini dibuat berdasarkan kepercayaan religi, siklus bulan, kalkulasi matematika dengan siklus atau unit 13 dan 20 sebagai dasar perhitungan disertai campuran kepercayaan mitologi.

Dalam sistem kalendar Maya unit hari dinyatakan dengan “kin”. Walaupun mereka terpengaruh keteraturan benda langit, namun cara penataannya yang seperti kalendar modern, yang menuntut presisi dan akurasi dalam mendiskripsikan fenomena langit yang dipergunakan sebagai acuan. Terbacanya kalendar Maya siklus Long Count 13 0 0 0 0 menggambarkan jumlah hari dari sejak terciptanya alam semesta? 0 x 1 + 0 x 20 + 0 x 360 + 0 x 7200 + 13 x 144000 = 1872000 hari  yang ekivalen dengan 21 Desember 2012 menjadi fokus isu datangnya hari kiamat atau bencana besar bagi umat manusia? Apa dasar prediksi tersebut? Angka 13 adalah angka “sacral”, dalam kosmologi ? Hanya intuisi manusia dan rasionalitas manusia memeriksa berbagai kemungkinan sumber bencana besar bagi planet Bumi yang tak pernah digambarkan oleh suku Maya.

Pengalaman suku Maya belum cukup untuk menggambarkan akhir kehidupan dengan kehancuran yang dahsyat.   Pernahkah anda membayangkan hidup di zaman mitos dan legenda, zaman sekira 3000 SM manusia telah mengenal langit, manusia telah bertransisi mengenal benda langit yang di personifikasi sebagai dewa. Hal ini sebenarnya bisa dilihat dalam perspektif interaksi manusia dengan langit. Manusia telah melihat bentuk – bentuk keteraturan, ada yang berulang. Pengamatan astronomi untuk kepentingan ritual untuk para  dewa.

Haab kalendar yang berbasis dekat dengan siklus tahunan Matahari? Kalendar Maya tidak mempunyai control untuk sesuatu yang lebih presisi? Mungkin pengetahuan pada waktu itu masih belum berkembang atau ada pandangan bahwa alam semesta sempurna sehingga semuanya terukur dengan angka genap, selebihnya merupakan simpangan ?

Long Count merupakan siklus yang lebih panjang tetapi fenomena kosmos apa yang menjadi acuan dasar perhitungannya? Ataukah hanya ekstrapolasi pemikiran membagi fenomena kosmos dengan bilangan 20 ? apakah akan ditemui? Suku Maya gagal memformulasikannya? Tidak bisa memprediksi sesuatu? Tapi tercatat suku Maya sebagai suku yang telah maju dalam memanfaatkan fenomena astronomis  sebagai sebuah sistem kalendar, namun masih ada kungkungan pemikiran yang berasal dari angka magis 20,  angka lainnya dibuang dalam hari – hari yang tidak dihitung?

Sistem kalendar Maya seperti sebuah jam, jarum jam yang menunjukkan angka berulang kita hanya melihat jam sepuluh, jam sebelas jam dua belas kemudian berulang lagi jam satu, jam dua dan seterusnya akan tetapi tidak menghitung berapa kali putaran. Jumlah putaran yang lebih kecil itu diakomodasi ke dalam  putaran jam yang lebih besar siklusnya.  Jam imaginative terus dikembangkan dengan kelipatan 20.

Salah satu bentuk sistem kalendar yang unik, siklus sinodis, siklus tahun tropis dan siklus planet Venus terakomodasi dalam penanggalan tersebut hanya dalam bentuk angka bulat yang terdekat, tidak ada sistem koreksi??? Seperti layaknya kalendar modern yang kita kenal.

Suku yang terisolasi telah merespon langit dengan melaku pengamatan berulangnya benda langit yang terang dan mengembara di langit lepas.

Bandung, Januari 2013

Moedji Raharto

Prodi Astronomi & KK Astronomi – FMIPA

 

ASPAL

  1. Pendahuluan

Beton aspal campuran panas (HMA) terdiri atas dua bahan dasar yaitu agregat dan aspal dalam perbandingan tertentu yang teliti dan diatur, kedua jenis bahan tersebut masing-masing dipanaskan dan dicampur pada suatu unit pencampur aspal (AMP).

Untuk memperoleh beton aspal campuran panas yang memenuhi persyaratan, salah satunya harus memperhatikan lamanya waktu pencampuran antara aspal dengan agregat  dan tebal film aspal pada agregat, dimana hal ini akan mempengaruhi sifat aspal yang digunakan yang akhirnya akan mempengaruhi tingkat keawetan dan kelenturan dari campuran beton aspal.

  1. Unsur-unsur dalam aspal

Dari proses pembuatannya aspal dibagi dua yaitu aspal alam dan aspal buatan, aspal buatan biasa disebut aspal minyak adalah bahan cementious berwarna coklat tua sampai hitam diperoleh dengan penyulingan minyak bumi. Aspal minyak yang digunakan untuk perkerasan jalan dibuat dari bahan dasar crude oil jenis asphaltic base.

Aspal terdiri dari molekul-molekul hydrokarbon komplex semi solid dan bersifat kenyal dan elastis dengan kekentalan tinggi, dari analisa elemen aspal mengandung:

– Carbon   82 – 88%

– Hidrogen   8 – 11%

– Oksigen    0 – 15%

– Belerang   0 – 15%

– Nitrogen    0 –   1%

Secara garis besar unsur yang dikandung aspal terdiri atas Asphaltene yang merupakan fraksi padat dan Maltene yang merupakan fraksi liquid, Maltene terdiri atas beberapa fraksi seperti diperlihatkan pada bagan alir dalam Gambar 1. Fraksi –  fraksi dalam aspal  tersebut mempunyai ciri-ciri:

  • Asphaltene
  • Berwarna hitam – abu mengandung bagian padat yang amorf
  • Larut dalam n pentane/n heoptane
  • Kadar asphaltene tinggi menyebabkan aspal menjadi keras, pentrasi rendah titik lembek tinggi dan viskositas tinggi.
  • Kadar asphaltene dalam aspal adalah 5 – 25%
  • Maltene terdiri atas:
  • Resin
  • Mempunyai sifat tengah-tengah antara maltene dan asphaltene
  • Berwarna abu tua solid dan semi solid
  • Larut dalam n pentane/n heoptane
  • Kelekatan sangat baik
  • Aromatik
  • Sebagian medium dispersi
  • Mempunyai kemampuan melarutkan hidrokarbon
  • Berwarna abu tua
  • Merupakan larutan yang kental
  • Kadar asphaltene Aromatik dalam  aspal adalah 40 – 65%
  • Saturated
  • Merupakan ikatan hidrokarbon alipatik
  • Terdiri dari waxy dan non waxy
  • Kadar saturated dalam aspal adalah 5 – 20%

 

 

Kadar asphaltene dalam aspal mempunyai pengaruh yang besar pada sifat-sifat aspal, kadar asphaltene yang tinggi menyebabkan aspal mempunyai nilai penetrasi rendah, titik lembek tinggi dan viskositas tinggi.

Pada saat pencampuran secara panas, kadar asphaltene akan naik dengan makin lamanya waktu pencampuran sedangkan resin dan aromatik akan terjadi sebaliknya. Setelah dihampar di lokasi penghamparan kadar asphaltene akan naik dengan bertambahnya umur perkerasan, aromatik dan resin hampir konstan.

Dengan naiknya kadar asphaltene dalam aspal akan menyebabkan terjadinya pelapukan pada aspal, yang akhirnya akan menurunkan fungsi aspal sebagai bahan pengikat.

III.Fungsi dan Sifat-sifat aspal

3.1  Fungsi aspal

Fungsi aspal dalam campuran beraspal mempunyai fungsi antara lain:

  • Sebagai bahan pengikat yang memberikan ikatan yang kuat antara agregat dalam campuran.
  • Sebagai bahan pengisi yang berfungsi mengisi rongga antara butir agregat dan rongga yang ada dalam agregat itu sendiri

Fungsi dari aspal ini sangat berhubungan erat dengan karakteristik campuran beraspal, apabila pengisian rongga dalam campuran (Voids Filled Asphalt) berlebih dari persyaratan, setelah dilewati kendaraan, perkerasan beraspal akan terjadi alur, dan bila kekurangan akan terjadi retak atau pelepasan butir.

 

3.2  Sifat-sifat aspal

Sifat-sifat aspal yang dibutuhkan untuk perkerasan jalan adalah

  1. Kelekatan terhadap batuan

Umumnya agregat yang digunakan dalam campuran beraspal mempunyai muatan listrik. Silika bermuatan negatif sedangkan aspal tidak bermuatan. Sifat lekat aspal terhadap agregat tidak disebabkan daya tarik muatan listrik tetapi karena tekanan permukaan agregat oleh aspal, tekanan aspal sangat dipengaruhi dari strukturnya, aspal yang mengandung banyak gugusan aromatik melekat lebih baik terhadap agregat daripada aspal yang mengandung banyak parafin dan yang lebih baik lagi bila aspal banyak mengandung gugusan hydrokarbon siklis.

Aspal biasanya mempunyai daya ikat yang baik dengan agregat. Untuk mempunyai daya ikat yang baik dengan agregat, viskositas aspal harus cukup rendah sehingga dapat membasahi permukaan agregat, makin tinggi viskositas makin sukar aspal tersebut melekat dengan batuan terutama bila terdapat debu atau air.

Apabila aspal telah melekat dengan baik pada agregat, biasanya pelekatannya cukup kuat dimana pemisahannya terjadi jika terjadi perosokan air akibat tekanan yang cukup tinggi pada permukaan aspal yang menyelimuti agregat.

Untuk mengetahui kelekatan aspal terhadap agregat dilakukan pengujian kelekatan aspal terhadap batuan standar, dimana aspal dikatakan memenuhi persyaratan apabila penyelimutan aspal pada permukaan agregat adalah 95% setelah direndam dalam air selama 24 jam.

  1. Viskositas

Aspal dalam campuran sebagian diserap oleh rongga dalam butir agregat dan sebagian lagi menyelimuti permukaan dari butir agregat tersebut, untuk memenuhi hal tersebut aspal harus mempunyai kemampuan untuk masuk ke dalam sebagian pori agregat dan menyelimuti permukaan. Nilai keenceran dari aspal atau viskositas akan berbeda jika struktur unsur yang ada dalam aspal berbeda.

Untuk mengetahui nilai viskositas aspal dilakukan pengujian menggunakan alat viscometer. Dengan diketahuinya nilai viskositas aspal, maka dapat ditentukan suhu aspal saat pencampuran dengan agregat dan suhu pemadatan di lapangan yaitu antara 150 – 190 centistokes untuk pencampuran dan antara 250 – 310 centistokes uintuk pemadatan.

Agar aspal dapat berfungsi dengan baik dalam campuran beraspal, aspal harus memenuhi persyaratan:

– Dapat menjadi cair saat dipanaskan

– Menjadi cukup keras agar  lapisan beraspal menjadi stabil pada suhu tertentu.

– Cukup lunak agar campuran beraspal tidak rapuh pada suhu rendah

  1. Kepekaan terhadap perubahan suhu.

Untuk memperoleh kinerja yang baik dari perkerasan jalan selama umur rencana, diperlukan penyesuaian suhu perkerasan dengan aspal yang digunakan. Untuk suhu perkerasan tinggi dengan lalu lintas berat disarankan menggunakan aspal penetrasi rendah dengan titik lembek tinggi dan sebaliknya. Pertimbangan tersebut disesuaikan dengan sifat aspal yaitu viskoselastis dimana karakteristik aspal peka terhadap perubahan suhu, menjadi sedikit kaku pada suhu rendah dan menjadi lunak pada suhu tinggi,

Kepekaan aspal terhadap perubahan suhu diindikasikan dengan nilai indeks penetrasi (PI) aspal yang merupakan fungsi dari titik lembek dan nilai penetrasi aspal.

PI yang rendah menunjukkan aspal peka terhadap perubahan suhu sedangkan PI tinggi tidak peka terhadap perubahan suhu. Indikasi ini sesungguhnya dilakukan pada viskositas tertentu akan tetapi hal ini hanya berlaku untuk aspal dengan sumber minyak bumi dan metode penyulingan yang sama.

Titik lembek rata-rata dicapai pada penetrasi 800 dan persamaan penetrasi :

Log pen = AT + C

dan apabila dimasukkan pada penetrasi 25oC dan T = titik lembek persamaan berikut:

log pen 25oC= A 25 + C

log pen 800  = AT + C

sehingga

log pen 25oC – log pen 800 = A (25 – T)

log pen 25oC – log pen 800

atau A = ————————————

25 – T

 

Dengan rumus di atas dapat dihitung nilai PI, dimana nilai PI aspal untuk campuran beraspal berkisar antara -1 sampai +1

Pengujian untuk mengetahui nilai penetrasi dan titik lembek yang digunakan untuk menghitung PI digunakan alat pengujian penetrasi dan alat pengujian ring ball

  1. Keawetan akibat pengaruh cuaca dan beban lalu-lintas

Keawetan adalah kemampuan aspal mempertahankan karakteristik asalnya akibat pengaruh cuaca selama masa pelayanan.

Sifat ini merupakan sifat campuran beraspal yang tergantung dari sifat agregat, campuran dengan aspal, dan faktor lainnya. Meskipun demikian sifat ini dapat diperkirakan dari hasil pemeriksaan Roll Thin Film Oven

 

  1. Pengaruh Pemanasan dan Tebal film aspal pada batuan

Untuk mengetahui pengaruh pemanasan aspal dan tebal film aspal pada batuan digunakan alat Roll Thin Film Oven dimana hasil pengujian memperlihatkan mutu aspal setelah keluar dari AMP.

4.1  Pengaruh pemanasan terhadap aspal

Dalam proses pencampuran campuran beraspal, diperlukan pemanasan aspal untuk memperoleh viskositas yang telah ditentukan, namun demikian proses pemanasan aspal kadang-kadang tidak dapat memperoleh nilai tersebut, penyimpangan ini akan menyebabkan:

  • Aspal terbakar dan mengurangi kelekatan terhadap batuan akibat suhu pemanasan yang terlalu tinggi.
  • Campuran tidak homogen karena pelekatan pada agregat kurang akibat suhu pemanasan yang kurang tinggi.

 

Akibat proses pemanasan pada aspal akan terjadi pengerasan akibat::

  • Jarak antara molekul dalam aspal menjadi kecil
  • Molekul ringan menguap
  • Kristalisasi parafin
  • Proses kimia oksidasi terjadi karena sinar ultra violet sebagai katalisator dimana zat asam dari udara bereaksi yang menghubungkan molekul-molekul sehingga terjadi polimerisasi.

 

Dari hasil beberapa penelitian, pemanasan aspal dapat dilakukan berulang dengan batasan-batasan sebagai berikut:

  • Pada pemanasan 150oC-160oC secara terbuka dengan adanya O2 pemanasan hanya dapat dilakukan 2 kali saja dengan lama 3 jam sifat fisik dan kimia tidak menunjukkan perubahan
  • Pada pemanasan 150oC-160oC secara tertutup tanpa O2 pemanasan hanya dapat dilakukan 4 kali saja dengan lama 3 jam sifat fisik dan kimia tidak menunjukkan perubahan
  • Pada pemanasan 95oC secara tertutup tanpa O2, pemanasan dapat dilakukan dengan sifat fisik dan kimia tidak menunjukkan perubahan

 

Akibat dari pemanasan aspal saat proses pencampuran dengan agregat di AMP menunjukkan bahwa makin tinggi suhu pencampuran, makin naiknya titik lembek dari aspal yang digunakan dalam campuran, seperti ditunjukkan pada Gambar1.

Proses pencampuran aspal dengan agregat akan menyebabkan  perubahan komposisi kimia dalam aspal yang mengakibatkan terjadinya pelapukan pada aspal.

Disamping saat pencampuran, pelapukan pada aspal juga terjadi saat penghamparan, meskipun percepatannya masih lebih kecil dibandingkan saat pencampuran. Kondisi perubahan fraksi dalam aspal serta perkembangan terjadinya pelapukan diperlihatkan pada Gambar 2

 

4.2   Pengaruh tebal film aspal pada batuan

 

4.3   Pengaruh lamanya waktu pencampuran aspal dan batuan

Akibat dari pemanasan aspal saat proses pencampuran dengan agregat di AMP menunjukkan bahwa makin tinggi suhu pencampuran, makin naiknya titik lembek dari aspal yang digunakan dalam campuran, seperti ditunjukkan pada Gambar1.

 

LAPIS RESAP IKAT DAN LAPIS PEREKAT

Pekerjaan  ini mencakup penyediaan dan penyemprotan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat pada permukaan yang telah disiapkan  sebelumnya untuk pemasangan lapisan beraspal berikutnya. Lapis Resap Ikat dihampar di atas permukaan yang bukan beraspal (misalnya Lapis Pondasi Agregat), sedangkan Lapis Perekat dihampar di atas permukaan yang beraspal (seperti Lapis Penetrasi Macadam, Laston, Lataston  dll) atau di atas permukaan beton semen.

1.Persyaratan Bahan
1.1.Bahan Lapis Resap Ikat (prime coat)
(1)   Aspal untuk Lapis Resap Ikat salah satu dari:

(a)    Aspal  emulsi mantap sedang atau mantap lambat yang memenuhi SNI 03-4798-1998. Aspal emulsi mengandung residu hasil penyulingan minyak bumi (aspal dan pelarut) tidak kurang dari 57 % dan mempunyai penetrasi aspal tidak kurang dari 100 (0,1 mm) untuk aspal emulsi jenis CSS tidak kurang dari 65 % dan mempunyai penetrasi aspal tidak kurang dari 100 (0,1 mm) untuk aspal emulsi CMS.

(b)   Aspal keras Pen.80 atau Pen.60, memenuhi RSNI S-01-2003, diencerkan dengan minyak tanah (kerosen). Proporsi minyak tanah yang digunakan sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan.Perbandingan pemakaian minyak tanah pada percobaan terdiri dari 70 bagian minyak per 100 bagian aspal keras (70 pph kurang lebih ekivalen dengan viskositas aspal cair hasil kilang jenis MC-30).

(2)   Bilamana lalu lintas diijinkan lewat di atas Lapis Resap Ikat maka harus digunakan bahan penyerap (blotter material) dari hasil pengayakan kerikil atau batu pecah, terbebas dari butiran-butiran berminyak atau lunak, bahan kohesif atau bahan organik. Tidak kurang dari 98 persen harus lolos ayakan ASTM 3/8” (9,5 mm) dan tidak lebih dari 2 persen harus lolos ayakan ASTM No.8 (2,36 mm).

1.2.Bahan Lapis Perekat (tack coat)
(1)   Aspal emulsi jenis mantap cepat yang memenuhi ketentuan SNI 03-4798-1998.

(2)   Aspal keras Pen.60 atau Pen.80 yang memenuhi ketentuan RSNI S-01-2003, diencerkan dengan 25 bagian campuran minyak tanah dengan premium (komposisi 1 : 3) per 100 bagian aspal. Campuran tersebut harus memenuhi spesifikasi aspal cair penguapan cepat sesuai SNI 03-4800-1998.

2.Takaran dan Temperatur Pemakaian Aspal
(1)   Percobaan lapangan harus dilakukan di bawah pengawasan Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan tingkat takaran yang tepat (liter per meter persegi) dan percobaan tersebut akan diulangi, sebagaimana diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, bila jenis dari permukaan yang akan disemprot atau jenis dari aspal berubah. Takaran pemakaian Lapis Resap Ikat ditunjukkan pada Tabel1, sedangkan untuk Lapis Perekat ditunjukkan pada Tabel 2.

 

Tabel 1 Takaran Pemakaian Lapis Resap Ikat

 

Jenis Aspal
Takaran (liter per meter persegi) pada
Lapis Pondasi Agregat Kelas A
Lapis Pondasi Semen Tanah
Aspal Cair
0,4 – 1,3
0,2 – 1,0
Aspal Emulsi
0,4 – 1,3
0,2 – 1,0
 

 

 

Tabel 2 Takaran Pemakaian Lapis Perekat

 

Jenis Aspal
Takaran (liter per meter persegi) pada
Perkerasan Beraspal
Perkerasan Kaku
Permukaan Baru atau Aspal Lama Yang Licin
Permukan Porous dan  Terekspos Cuaca
Permukaan Baru
Permukaan Aus atau licin
Aspal Cair
0,15
0,15 – 0,35
0,15
0,15 – 0,25
Aspal Emulsi
0,20
0,20 – 0,50
0,20
0,20 – 0,35
(2)   Suhu penyemprotan harus sesuai dengan Tabel 3, kecuali diperintahkan lain oleh Direksi Pekerjaan. Suhu penyemprotan untuk aspal cair yang kandungan minyak tanahnya berbeda dari yang ditentukan dalam daftar ini, temperaturnya dapat diperoleh dengan cara interpolasi.

Tabel 3  Suhu Penyemprotan

Jenis Aspal
Rentang  Suhu Penyemprotan
Aspal cair, 25 pph minyak tanah
80 ± 10 ºC
Aspal cair, 45 pph minyak tanah (MC-70)
65 ± 10 ºC
Aspal cair, 70 pph minyak tanah (MC-30)
40 ± 10 ºC
Aspal emulsi
Tidak dipanaskan
Catatan :

pph  :  bagian per 100 bagian (part per hundred).

Tindakan yang sangat hati-hati harus dilaksanakan bila memanaskan setiap aspal cair.

(3)  Frekuensi pemanasan yang berlebihan atau pemanasan yang berulang-ulang pada temperatur tinggi haruslah dihindari. Setiap bahan yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan, telah rusak akibat pemanasan berlebihan harus ditolak dan harus diganti atas biaya Penyedia Jasa.

2.Persyaratan Peralatan
Perlengkapan yang harus disediakan terdiri dari penyapu mekanis dan atau kompresor, distributor aspal, peralatan untuk memanaskan aspal dan peralatan yang sesuai untuk meratakan kelebihan aspal.

a)    Alat Distributor Aspal

(1)         Alat Distributor aspal berupa kendaraan beroda ban angin yang bermesin penggerak sendiri, memenuhi peraturan keselamatan jalan. Bilamana dimuati penuh maka tekanan ban pada pengoperasian dengan kecepatan penuh tidak boleh melampaui tekanan yang direkomendasi pabrik pembuatnya.

(2)         Sistem tangki aspal, pemanasan, pemompaan dan penyemprotan harus sesuai dengan ketentuan pengamanan dari Institute of Petroleum, Inggris.

(3)         Alat Distributor aspal harus dilengkapi dengan batang semprot sehingga dapat mensirkulasikan aspal secara penuh yang dapat diatur ke arah horisontal dan vertikal. Batang semprot harus terpasang dengan jumlah minimum 24 nosel, dipasang pada jarak yang sama yaitu 10 ± 1 cm. Alat Distributor aspal juga harus dilengkapi pipa semprot tangan.

(4)         Alat penyemprot, harus dirancang, dilengkapi, dipelihara dan dioperasikan sedemikian rupa sehingga aspal mendapat pemanasan dengan merata dan dapat disemprotkan secara merata dengan berbagai variasi lebar permukaan, pada takaran yang ditentukan dalam rentang 0,15 sampai 2,4 liter per meter persegi.

b)    Perlengkapan

Perlengkapan alat Distributor aspal harus terdiri dari sebuah tachometer (pengukur kecepatan putaran), meteran tekanan, tongkat celup yang telah dikalibrasi, sebuah termometer untuk mengukur temperatur isi tangki, dan peralatan untuk mengukur kecepatan lambat. Seluruh perlengkapan pengukur pada alat Distributor harus dikalibrasi untuk memenuhi toleransi yang ditentukan. Selanjutnya kalibrasi yang teliti dan memenuhi ketentuan tersebut harus diserahkan kepada Direksi Pekerjaan.

c)    Toleransi Alat Distributor Aspal

Toleransi ketelitian dan ketentuan  jarum baca yang dipasang  pada alat Distributor aspal dengan batang semprot harus memenuhi ketentuan:

 

Ketentuan dan Toleransi Yang Dijinkan

Tachometer pengukur  tekanan penyemprotan
:
± 1,5 persen dari skala putaran penuh sesuai ketentuan BS 3403

Tachometer pengukur  kecepatan putaran pompa
:
± 1,5 persen dari skala putaran penuh sesuai ketentuan BS 3403

Termometer
:
± 5 ºC, rentang 0 – 250 ºC,

Pengukur volume atau tongkat celup
:
± 2 persen dari total volume tangki, nilai maksimum garis skala Tongkat Celup 50 liter.
d)    Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaaan

Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaan yang harus disertakan pada alat semprot dan harus dalam keadaan baik setiap saat.

Buku petunjuk pelaksanaan harus menunjukkan diagram aliran pipa dan semua petunjuk untuk cara kerja alat distributor.

Grafik Penyemprotan harus memperlihatkan hubungan antara kecepatan dan jumlah takaran pemakaian aspal yang digunakan serta hubungan antara kecepatan pompa dan jumlah nosel yang digunakan, berdasarkan pada keluaran aspal dari nosel. Keluaran aspal pada nosel (liter per menit) dalam keadaan konstan, beserta  tekanan penyemprotanya harus diplot pada grafik penyemprotan.

Grafik Penyemprotan juga harus memperlihatkan tinggi batang semprot dari permukaan jalan dan kedudukan sudut horisontal dari nosel semprot, untuk menjamin adanya tumpang tindih (overlap) semprotan yang keluar dari tiga nosel (yaitu setiap lebar permukaan disemprot oleh semburan tiga nosel).

e)    Kinerja Alat Distributor Aspal

(1)   Harus menyiapkan alat distributor lengkap dengan perlengkapan dan operatornya untuk pengujian lapangan dan harus menyediakan tenaga pembantu yang dibutuhkan untuk tujuan tersebut sesuai perintah Direksi Pekerjaan. Setiap distributor yang menurut pendapat Direksi Pekerjaan kinerjanya tidak dapat diterima bila dioperasikan sesuai dengan Grafik Penyemprotan dan Buku Petunjuk Pelaksanaan atau tidak memenuhi ketentuan dalam Spesifikasi , maka peralatan tersebut tidak diperkenankan untuk dioperasikan dalam pekerjaan. Setiap modifikasi atau penggantian distributor aspal harus diuji terlebih dahulu sebelum digunakan dalam pelaksanaan pekerjaan.

(2)   Penyemprotan dalam arah melintang dari takaran pemakaian aspal yang dihasilkan oleh alat distributor aspal harus diuji dengan cara melintaskan batang semprot di atas bidang pengujian selebar 25 cm x 25 cm yang terbuat dari lembaran resap yang bagian bawahnya kedap, yang beratnya harus ditimbang sebelum dan sesudah disemprot. Perbedaan berat harus dipakai dalam menentukan takaran aktual pada  tiap lembar dan perbedaan tiap lembar terhadap takaran rata-rata yang diukur melintang pada lebar penuh yang telah disemprot tidak boleh melampaui 15 persen takaran rata-rata.

(3)   Ketelitian yang dapat dicapai distributor aspal terhadap suatu takaran sasaran pemakaian alat semprot harus diuji dengan cara yang sama dengan pengujian distribusi melintang yang telah diuraikan.

Lintasan penyemprotan minimum sepanjang 200 meter harus dilaksanakan dan kendaraan harus dijalankan dengan kecepatan tetap sehingga dapat mencapai takaran sasaran pemakaian yang telah ditentukan lebih dahulu oleh Direksi Pekerjaan.

Minimum 5 penampang melintang yang berjarak sama harus dipasang 3 kertas resap yang berjarak sama, kertas tidak boleh dipasang dalam jarak kurang dari 0,5 meter dari tepi bidang yang disemprot atau dalam jarak 10 m dari titik awal penyemprotan. Takaran pemakaian, yang diambil sebagai nilai rata-rata dari semua kertas resap tidak boleh berbeda lebih dari 5 persen dari takaran sasaran. Sebagai alternatif,  takaran pemakaian rata-rata dapat dihitung dari pembacaan tongkat ukur yang telah dikalibrasi,. Untuk tujuan pengujian ini minimum 70 persen dari kapasitas distributor aspal harus disemprotkan.

 

f)     Peralatan Penyemprot Aspal Tangan (Hand Sprayer)

Bilamana diijinkan oleh Direksi Pekerjaan maka penggunaan perlatan penyemprot aspal tangan dapat dipakai sebagai pengganti alat distributor aspal.

Perlengkapan utama peralatan penyemprot aspal tangan harus selalu dijaga dalam kondisi baik, terdiri dari :

(1)   Tangki aspal dengan alat pemanas;

(2)   Pompa yang memberikan tekanan ke dalam tangki aspal sehingga aspal dapat tersemprot keluar;

(3)   Batang semprot yang dilengkapi dengan lubang pengatur keluarnya aspal (nosel).

Agar diperoleh hasil penyemprotan yang merata maka Penyedia Jasa harus menyediakan tenaga operator yang terampil dan diuji coba dahulu kemampuannya sebelum disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

1)      Persyaratan Kerja
Kondisi Cuaca Yang Diijinkan

Lapisan Resap Ikat harus disemprot hanya pada permukaan yang kering atau mendekati kering, dan Lapis Perekat harus disemprot hanya pada permukaan yang benar-benar kering. Penyemprotan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat tidak boleh dilaksanakan waktu angin kencang, hujan atau akan turun hujan.

Mutu Pekerjaan dan Perbaikan dari Pekerjaan Yang Tidak Memenuhi Ketentuan

Lapisan yang telah selesai harus menutup keseluruhan permukaan yang dilapisi dan tampak merata, tanpa adanya bagian-bagian yang beralur atau kelebihan aspal.

Untuk Lapis Perekat, harus melekat dengan cukup kuat di atas permukaan yang disemprot. Untuk penampilan yang kelihatan berbintik-bintik, sebagai akibat dari aspal yang didistribusikan sebagai butir-butir tersendiri dapat diterima asalkan penampilannya kelihatan rata dan keseluruhan takaran pemakaiannya memenuhi ketentuan.

Untuk Lapis Resap Ikat, setelah proses pengeringan, aspal harus sudah meresap ke dalam lapis pondasi, meninggalkan sebagian aspal yang dapat ditunjukkan dengan permukaan berwarna hitam yang merata dan tidak berongga (porous). Tekstur untuk permukaan lapis pondasi agregat setelah disemprot Lapis Resap Ikat harus rata sehingga tidak ada genangan atau aspal tercampur agregat halus yang cukup tebal sehingga mudah dikupas dengan pisau.

Perbaikan dari Lapis Resap Ikat dan Lapis Perekat yang tidak memenuhi ketentuan harus seperti yang diperintahkan oleh Direksi Pekerjaan, termasuk pembuangan bahan yang berlebihan, penggunaan bahan penyerap (blotter material), atau penyemprotan tambahan seperlunya. Setiap kerusakan kecil pada Lapis Resap Ikat harus segera diperbaiki. Direksi Pekerjaan dapat memerintahkan agar lubang yang besar atau kerusakan lain yang terjadi, dibongkar dan dipadatkan kembali atau penggantian lapisan pondasi yang diikuti dengan pengerjaan kembali Lapis Resap Ikat.

(5)   Pengajuan Kesiapan Kerja

Sebelum pelaksanaan, terlebih dahulu harus diajukan terlebih dahulu:

(1)   Lima liter contoh dari setiap aspal yang diusulkan untuk digunakan dalam pekerjaaan dilengkapi sertifikat dari pabrik pembuatnya dan hasil pengujian seperti yang disyaratkan dalam, diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai. Sertifikat tersebut harus menjelaskan bahwa aspal tersebut memenuhi ketentuan dari Spesifikasi sesuai jenis bahan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat, seperti yang ditentukan.

(2)   Catatan kalibrasi dari semua peralatan dan meteran pengukur serta tongkat celup ukur untuk alat distributor aspal, harus diserahkan paling lambat 30 hari sebelum pelaksanaan pekerjaan dimulai. Tongkat celup ukur, semua peralatan dan meteran pengukur harus dikalibrasi sampai memenuhi akurasi, tanggal pelaksanaan kalibrasi harus tidak melebihi satu tahun sebelum pelaksanaan dimulai.

(3)   Grafik penyemprotan harus memenuhi ketentuan dan diserahkan sebelum pelaksanaan dimulai.

(4)   Contoh-contoh bahan yang dipakai pada setiap hari kerja harus dilaksanakan sesuai ketentuan. Laporan harian untuk pekerjaan yang telah dilakukan dan takaran pemakaian bahan harus memenuhi ketentuan

(6)   Kondisi Tempat Kerja

(1)   Pekerjaan harus dilaksanakan sedemikian rupa sehingga masih memungkinkan lalu lintas satu lajur tanpa merusak pekerjaan yang sedang dilaksanakan dan hanya menimbulkan gangguan yang minimal bagi lalu lintas.

(2)   Bangunan-bangunan  dan benda-benda lain di samping tempat kerja (struktur, pepohonan dll.) harus dilindungi agar tidak menjadi kotor karena percikan aspal.

(3)   Aspal tidak boleh dibuang sembarangan kecuali ke tempat yang disetujui oleh Direksi Pekerjaan.

(4)   Penyedia Jasa harus melengkapi tempat pemanasan dengan fasilitas pencegahan dan pengendalian kebakaran yang memadai, juga pengadaan dan sarana pertolongan pertama.

(7)   Pengendalian Lalu Lintas

(1)   Pengendalian lalu lintas harus memenuhi ketentuan  , Pemeliharaan dan Pengaturan Lalu Lintas .

(2)   Penyedia Jasa harus bertanggung jawab terhadap dampak yang terjadi bila lalu lintas yang dijinkan lewat di atas Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat yang baru dikerjakan,.

6.1.2        PELAKSANAAN
a)      Apabila pekerjaan Lapis Resap Ikat dan Lapis Perekat akan dilaksanakan pada   permukaan perkerasan jalan yang ada atau bahu jalan yang ada, semua kerusakan perkerasan maupun bahu jalan harus diperbaiki.

b)      Apabila pekerjaan Lapis Resap Ikat dan Lapis Perekat akan dilaksanakan pada perkerasan jalan baru atau bahu jalan baru, perkerasan atau bahu itu harus telah selesai dikerjakan sepenuhnya,yang sesuai dengan lokasi dan jenis permukaan yang baru  tersebut.

c)      Permukaan yang akan disemprot itu harus dipelihara sebelum pekerjaan pelaburan dilaksanakan.

d)      Sebelum penyemprotan aspal dimulai, permukaan harus dibersihkan dengan memakai sikat mekanis atau kompresor atau kombinasi keduanya.  Bilamana peralatan ini belum dapat memberikan permukaan yang benar-benar bersih, penyapuan tambahan harus dikerjakan manual dengan sikat yang kaku.

e)      Pembersihan harus dilaksanakan  melebihi 20 cm dari tepi bidang yang akan disemprot.

f)       Tonjolan yang disebabkan oleh benda-benda asing lainnya harus disingkirkan dari permukaan dengan memakai penggaru baja atau dengan cara lainnya yang telah disetujui atau sesuai dengan perintah Direksi Pekerjaan dan bagian yang telah digaru tersebut harus dicuci dengan air dan disapu.

g)      Untuk pelaksanaan Lapis Resap Ikat di atas Lapis Pondasi Agregat Kelas A, permukaan akhir yang telah disapu harus rata, rapat, bermosaik agregat kasar dan halus, permukaan yang hanya mengandung agregat halus tidak akan diterima.

h)      Pekerjaan penyemprotan aspal tidak boleh dimulai sebelum perkerasan telah disiapkan dapat diterima oleh Direksi Pekerjaan.

Kegiatan Lapangan
a)      Pelaksanaan Penyemprotan

(1)   Batas permukaan yang akan disemprot oleh setiap lintasan penyemprotan harus diukur dan ditandai. Khususnya untuk Lapis Resap Ikat, batas-batas lokasi yang disemprot harus ditandai (seperti dengan kapur tulis, cat atau benang).

(2)   Agar aspal dapat merata pada setiap titik maka aspal harus disemprotkan dengan batang penyemprot dengan kadar aspal yang diperintahkan. Jika penyemprotan dengan distributor tidaklah praktis untuk lokasi yang sempit, Direksi Pekerjaan dapat menyetujui pemakaian penyemprot aspal tangan (hand sprayer).

Penyemprotan aspal dengan alat distributor harus dioperasikan sesuai Grafik Penyemprotan yang telah disetujui. Kecepatan pompa, kecepatan kendaraan, ketinggian batang semprot dan penempatan nosel harus disetel sesuai ketentuan grafik tersebut sebelum dan selama pelaksanaan penyemprotan.

(3)   Bila diperintahkan, bahwa lintasan penyemprotan aspal harus satu lajur atau setengah lebar jalan maka harus ada bagian yang  tumpang tindih (overlap) selebar 20 cm sepanjang sisi-sisi lajur yang bersebelahan. Sambungan memanjang selebar 20 cm ini harus dibiarkan terbuka dan tidak boleh ditutup oleh lapisan berikutnya sampai lintasan penyemprotan di lajur yang bersebelahan telah selesai dilaksanakan. Demikian pula  lebar yang telah disemprot harus lebih besar dari pada lebar rencana pekerjaan lapisan beraspal yang ditetapkan, hal ini dimaksudkan agar tepi permukaan yang ditetapkan tetap mendapat semprotan dari tiga nosel, sama seperti permukaan yang lain.

(4)   Lokasi awal dan akhir penyemprotan harus dilindungi dengan bahan yang cukup kedap. Penyemprotan harus dimulai dan dihentikan sampai seluruh sebagian bahan pelindung tersemprot, dengan demikian seluruh nosel bekerja dengan benar pada sepanjang bidang jalan yang akan disemprot.

Alat Distributor aspal harus mulai bergerak kira-kira 25 meter sebelum daerah yang akan disemprot dengan demikian kecepatan lajunya dapat dijaga konstan sesuai ketentuan, agar batang semprot mencapai bahan pelindung tersebut dan kecepatan ini harus tetap dipertahankan sampai melalui titik akhir.

(5)   Sisa aspal dalam tangki distributor harus dijaga tidak boleh kurang dari 10 persen dari kapasitas tangki untuk mencegah udara yang terperangkap (masuk angin) dalam sistem penyemprotan.

(6)   Jumlah pemakaian aspal pada setiap kali lintasan penyemprotan harus segera diukur dari volume sisa dalam tangki dengan meteran tongkat celup.

(7)   Takaran pemakaian rata-rata aspal pada setiap lintasan penyemprotan, harus dihitung sebagai volume aspal yang telah dipakai dibagi luas bidang yang disemprot. Luas lintasan penyemprotan didefinisikan sebagai hasil kali panjang lintasan penyemprotan dengan jumlah nosel yang digunakan dan jarak antara nosel. Takaran pemakaian rata-rata yang dicapai harus sesuai dengan yang diperintahkan Direksi Pekerjaan, dalam toleransi berikut:

 

Toleransi takaran pemakaian

1 % dari volume tangki
=
+ (4 % dari takaran yg diperintahkan
+
—————————-   )

Luas yang disemprot
Takaran pemakaian yang dicapai harus telah dihitung sebelum lintasan penyemprotan berikutnya dilaksanakan dan bila perlu diadakan penyesuaian untuk penyemprotan berikutnya .

(8)   Penyemprotan harus segera dihentikan jika ternyata ada ketidaksempurnaan peralatan semprot pada saat beroperasi.

(9)   Setelah pelaksanaan penyemprotan, khususnya untuk  Lapis Perekat,  aspal yang berlebihan dan tergenang di atas permukaan yang telah disemprot harus diratakan dengan menggunakan alat pemadat roda karet, sikat ijuk atau alat penyapu dari karet.

(10)     Tempat-tempat yang disemprot dengan Lapis Resap Ikat yang menunjukkan adanya aspal berlebihan harus ditutup dengan bahan penyerap (blotter material) sebelum penghamparan lapis berikutnya. Bahan penyerap (blotter material) hanya boleh dihampar 4 jam setelah penyemprotan Lapis Resap Ikat.

(11)     Tempat-tempat bekas kertas resap untuk pengujian kadar aspal harus dilabur kembali dengan aspal yang sejenis secara manual dengan kadar yang hampir sama dengan kadar di sekitarnya.

b)Pembukaan Bagi Lalu Lintas

(1)  Lapis Resap Ikat

Lalu lintas tidak diijinkan lewat sampai aspal telah meresap dan mengering serta tidak akan terkelupas akibat dilewati roda lalu lintas. Dalam keadaan khusus, lalu lintas dapat diijinkan lewat sebelum waktu tersebut, tetapi tidak boleh kurang dari empat jam setelah penghamparan Lapis Resap Ikat tersebut.  Agregat penutup (blotter material) yang bersih, yang sesuai dengan ketentuan harus dihampar sebelum lalu lintas diijinkan lewat.

Agregat penutup harus disebar dari truk sedemikian rupa sehingga roda tidak melindas aspal yang belum tertutup agregat. Bila penghamparan agregat penutup pada lajur yang sedang dikerjakan yang bersebelahan dengan lajur yang belum dikerjakan, sebuah alur (strip) yang lebarnya paling sedikit 20 cm sepanjang tepi sambungan harus dibiarkan tanpa tertutup agregat, atau jika sampai tertutup harus dibuat tidak tertutup agregat bila lajur kedua sedang dipersiapkan untuk ditangani, agar memungkinkan tumpang tindih (overlap) aspal. Pemakaian agregat penutup harus dilaksanakan seminimum mungkin.

(2)  Lapis Perekat

Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, Penyedia Jasa harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak dengan lalu lintas. Lalu lintas tidak diijinkan lewat sampai penghamparan lapis beraspal di atasnya selesai dikerjakan.

6.1.3        PENGENDALIAN MUTU
1)Penerimaan Bahan
a)            Penyimpanan bahan sesuai harus memenuhi ketentuan.

b)            Contoh aspal dan sertifikatnya, seperti disyaratkan harus disediakan pada setiap pengangkutan aspal ke lapangan pekerjaan.

c)            Dua liter contoh bahan aspal yang akan dihampar harus diambil dari distributor aspal, masing-masing pada saat awal penyemprotan dan pada saat menjelang akhir penyemprotan.

d)            Alat Distributor aspal harus diperiksa dan diuji, sesuai dengan ketentuan sebagai berikut :

(1)  Sebelum pelaksanaan pekerjaan penyemprotan pada Kontrak tersebut;

(2)   Setiap 6 bulan atau setiap penyemprotan aspal sebanyak 150.000 liter, dipilih yang lebih dulu tercapai;

(3)   Apabila distributor mengalami kerusakan atau dimodifikasi, perlu dilakukan pemeriksaan ulang terhadap distributor tersebut.

e)            Gradasi agregat penutup (blotter material) harus diajukan kepada Direksi Pekerjaan untuk mendapatkan persetujuan sebelum agregat tersebut digunakan.

f)             Catatan harian yang  terinci mengenai pelaksanaan penyemprotan permukaan, termasuk pemakaian aspal pada setiap lintasan penyemprotan dan takaran pemakaian yang dicapai, harus dibuat dalam formulir standar Lembar 1.10 seperti terdapat pada Gambar Rencana.

1)      Pemeliharaan Hasil Pekerjaan
a)      Pemeliharaan Lapis Resap Ikat

Penyedia Jasa harus tetap memelihara permukaan yang telah diberi Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat sesuai standar yang ditetapkan sampai lapisan berikutnya dihampar. Lapisan berikutnya hanya dapat dihampar setelah  Lapis Resap Ikat telah meresap ke dalam dan mengikat lapis pondasi.

Untuk Lapis Resap Ikat yang akan dilapisi Burtu atau Burda, waktu penundaan harus sebagaimana yang diperintahkan Direksi Pekerjaan minimum dua hari dan tak boleh lebih dari empat belas hari, tergantung dari lalu lintas, cuaca,  jenis aspal dan bahan lapis pondasi yang digunakan.

b)      Pemeliharaan dari Lapis Perekat

Lapis Perekat harus disemprotkan sebelum  penghamparan lapis aspal berikut di atasnya untuk memperoleh kondisi kelengketan yang tepat sesuai rentang waktu kemantapan aspal (setting/curing). Pelapisan lapisan beraspal berikut tersebut harus dihampar sebelum lapis aspal hilang kelengketannya melalui pengeringan yang berlebihan, oksidasi, debu yang tertiup atau lainnya. Sewaktu lapis aspal dalam keadaan tidak tertutup, Penyedia Jasa harus melindunginya dari kerusakan dan mencegahnya agar tidak berkontak dengan lalu lintas.

6.1.4        PENGUKURAN DAN PEMBAYARAN
1)      Pengukuran Untuk Pembayaran
a)    Kuantitas aspal yang diukur untuk pembayaran adalah nilai terkecil di antara berikut ini : jumlah liter pada 15 ºC menurut takaran yang diperlukan sesuai dengan Spesifikasi dan ketentuan Direksi Pekerjaan, atau jumlah liter aktual pada 15 ºC yang terhampar dan diterima. Pengukuran volume harus diambil saat bahan berada pada temperatur keseluruhan yang merata dan bebas dari gelembung udara. Kuantitas dari aspal yang digunakan harus diukur setelah setiap lintasan penyemprotan.

b)    Setiap agregat penutup (blotter material) yang digunakan harus dianggap termasuk pekerjaan sementara untuk memperoleh Lapis Resap Ikat yang memenuhi ketentuan dan tidak akan diukur atau dibayar secara terpisah.

c)    Pekerjaan untuk penyiapan dan pemeliharaan formasi yang di atasnya diberi Lapis Resap Ikat dan Lapis Perekat,  tetapi harus diukur dan dibayar sesuai dengan Seksi yang relevan yang disyaratkan untuk pelaksanaan dan rehabilitasi.

d)    Pembersihan dan persiapan akhir pada permukaan jalan dan pemeliharaan permukaan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat yang telah selesai harus dianggap merupakan satu kesatuan dengan pekerjaan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat yang memenuhi ketentuan dan tidak boleh diukur atau dibayar secara terpisah.

2)      Pengukuran Untuk Pekerjaan Yang Diperbaiki
Bila perbaikan pekerjaan Lapis Resap Ikat atau Lapis Perekat yang tidak memenuhi ketentuan telah dilaksanakan sesuai perintah Direksi Pekerjaan, maka kuantitas yang diukur untuk pembayaran haruslah merupakan pekerjaan yang seharusnya dibayar jika pekerjaan yang semula diterima. Tidak ada pembayaran tambahan yang akan dilakukan untuk pekerjaan tambahan, kuantitas maupun pengujian yang diperlukan oleh perbaikan ini.

3)      Dasar Pembayaran
Kuantitas yang sesuai dengan ketentuan di atas harus dibayar menurut Harga Satuan Kontrak per satuan pengukuran untuk Mata Pembayaran yang tercantum di bawah ini dan dalam Daftar Kuantitas dan Harga, dimana pembayaran tersebut harus merupakan kompensasi penuh untuk pengadaan dan penyemprotan seluruh bahan, termasuk bahan penyerap (blotter material), penyemprotan ulang, termasuk seluruh pekerja, peralatan, perlengkapan, dan setiap kegiatan yang diperlukan untuk menyelesaikan dan memelihara pekerjaan yang diuraikan.

 

Uraian
Satuan Pengukuran
Lapis Resap Ikat
Liter
Lapis Perekat
Liter

Pertama Kali Mendaki Gunung

Sebenarnya telat banget mau ngepost cerita ini, tapi ini cerita ngelekat banget dihidup gue karena didalam perjalanannya begitu banyaknya pelajaran hidup yang bisa ditangkap. Cerita ini bermula dengan begitu banyaknya wacana sehingga menjadi rencana dan bisa direalisasikan. Cerita ini terjadi kira-kira yaa tahun 2013 bulannya gue dah lupa harinya juga dah lupa hehehehe.

Pertama itu kebetulan gue punya tetangga yang udah deket banget sama keluarga gue dan tetangga gue ini namanya om Rizal. Om Rizal ini udah gue anggap kayak om sendiri, beliau sering banget ngasih masukan-masukan yang bermafaat banget buat gue. Dari ngasih tau kaos kaki yang baik buat perjalanan sampai ngajak main ke Cibodas. Nah sebelum perjalanan kita setim itu terdiri dari Gue, Laras, Tiara, Fakhri, Fadli, Gigih, Arif, Teh Aisyah, dan Mas Iqi. Kami memulai berangkat dari bawah itu pagi-pagi tapi sebelum hari H karena aku pernah main-main ke Cibodas jadinya aku saranin temen-temen buat nginep di tempatnya  Om Rizal yaitu kedai Cantigi 🙂 terus main-main lihat bukit golf keliling-keliling Cibodas terus ngerasain suasana pedesaan gitu deh.

1

ini foto kedai cantigi 🙂 kami bermalam di sana sebelum mendaki. Sebelum mendaki kami foto2 dulu biar asik wkwkwk. Oh yaa pas sebelum hari H, kami Izin buat naik namanya simaksi atau surat izin masuk hutan konservasinya mustinyakan online… tapi kami offline dan waktu itu main cap2 aja mas2nya horee kami akhirnya diizinkan secara resmi. Akhirnya kami dapat mendaki dengan resmi dan aman.

2.jpg

Ini di pintu masuknya. Deg-degan banget sih, tapi main lanjut ajalah biar seru hahaha. Belum apa-apa udah cape pas mendaki tapi pas lihat jam baru 15 menit, gue putuskan buat lepasin jaket soalnyakan karena baru pertama tak kirain bakal kedinginan taunya keringetan hahaha jadinya lepas jaket deh…

3

Nah udah lepas jaket tuh hahaha… itu baru di rawa gayonggong, asik sih tapi makin seru aja pendakiannya. Oh yaa itu baju gue dapat dari kementrian Kehutanan lohhh. H-2 pendakian gue ikut sosialisasi DAS citarum dan Ciliwung di Ekalokasari dan mendapatkan baju itu hahahaha…4

Ini istirahat dulu soalnya lumayan cape sihh tapi minimal gue duduk dulu lah biar gak pegel hahahaha…. Tapi perjalanan masih berlanjut setelah duduk2 kita melewati Air panas, sayang gue gak foto2 disana soalnya rawan dan licin tapi gue bolak-balik air panas ujung ke ujung 3 kali pas Sholat Zuhur buat nyari air wudhu yang layak wkwkwkwk…

6

Selesai Sholat Zuhur yaa kita makan siang, eit kita bawa nasi bungkus biar kagak repot wkwkwkw. Dilihat biasa aja tapi dimulut dia berubah menjadi enak looo. Makan siang selesai kita lanjut perjalanan sampai kandang badak.

5

Jalan lagi udah makin capek tapi nih jalan kagak kelar-kelar. Dan akhirnya mental mulai diuji wakakak… Sesampainya dikandang Batu kami hanya numpang duduk dan jalan lagi sampai kandang badak hehehe.

10

Sesampainya di Kandang Badak kami kehujanan dan pakai jas hujan ala-ala. Terus perjalanan sampai puncak menjadi mencekam (?) hari semakin gelap, gak bisa foto2 hahaha, mental main, dll. Karena sejujurnya ego gue tinggi gue males nenteng tenda yang dipenggang gigih difoto itu hehehe. Terus gue dah keram otak, beratnya kerir dah gak kerasa terus yang dirasa apa (?) tangan yang baal atau tangannya mati rasa… Soalnya gue demen banget megang lumut yang dingin, tanah yang dingin, akar yang dingin, dan pohon yang dingin sebagai suatu hal yang membantu untuk mendaki.

7

Akhirnya sampai puncak dan mendirikan tenda. Terus tidur, kalau gue gak makan malem soalnya dah kebelet tidur… Ngantuk banget pendakian atau perjalanan malam. Paginya beres-beres tenda dan foto2 di alun-alun MANDALAWANGI. Seru banget dan bersahabat banget cuacanya.

8

Akhirnya kami foto dipuncak dan semua itu membuat kami memiliki tambahan pengalaman yang baik. Seneng banget bisa jalan2 dan gak bisa dilupakan deh ahahahaha…

Buku penunjang Teknik Sipil SEMESTER 4

Terimakasih anda telah mengakses blog saya. Berikut ini buku penunjang teknik sipil untuk semester 4. Semoga dapat bermanfaat Terimakasih

Sesuai dengan kurikulum yang ITB anjurkan pada link: Kurikulum Teknik Sipil ITB lamp.1

Mekanika Tanah: Buku Mekanika Tanah (Principles of Geotechnical Engineering 7th Edition)

Rekayasa Lalu Lintas: Buku Rekayasa Lalu Lintas (principles of pavement design yoder 2nd ed)

Mekanika Bahan: Buku Mekanika Bahan (Mechanics of Materials 8th-Hibbeler)

Metoda Numerik: Buku Metoda Numerik (Kahaner, D., Moler, C., and Nash, S., ”Numerical Method and Software”, Prentice Hall.)

Hidrologi: Buku Hidrologi (Chow, V.T., Applied Hydrology, McGraw Hill, 1988 )